Opini Pos Kupang

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan

Beberapa bulan yang lalu masyarakat NTT sempat dihebohkan dengan wacana peraturan Gubernur (Pergub) NTT pelegalan miras

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan
POS KUPANG.COM/HERMINA PELLO
Salah saat pekerja di sentra Tenun Ikat Ina Ndao sedang menenun. 

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan
Oleh : Yeftha Yerianto Sabaat
Dosen Ilmu Politik, FISIP Undana

PEREMPUAN NTT dalam judul di atas maksudnya adalah posisi perempuan NTT dipersimpangan jalan modernisasi dan tradisional, antara menjaga kearifan lokal dan mengikuti perkembangan zaman.

Kearifan lokal yang dimiliki NTT salah satunya adalah tenun ikat. Di tengah pengaruh modernisasi, kita sebagai manusia yang berbudaya selalu dituntut untuk menjaga kearifan lokal.

Beberapa bulan yang lalu masyarakat NTT sempat dihebohkan dengan wacana peraturan Gubernur (Pergub) NTT pelegalan miras, perlu diketahui bahwa miras lokal yang ada di NTT juga tak kalah nikmatnya dengan miras lokal di daerah lain.

Itu baru bicara soal rasa belum lagi kualitasnya yang juga tak kalah bagusnya dengan wine atau red label.

Tapi sekali lagi apabila sebuah peraturan ingin ditegakkan perlu dilakukan kajian-kajian yang nantinya akan menjadi ukuran untuk menguji peraturan tersebut bisa diterapkan atau tidak.

Pro dan kontra tentang pergub tersebut semakin mewarnai diskusi di ruang-ruang publik dan turut mempengaruhi opini publik dan akhirnya pergub tersebut tidak jadi diterapkan.

Setelah rencana pergub tentang miras lokal gagal dicanangkan, hadir lagi pergub tentang wajib berbahasa Inggris di hari Rabu (english day) yang sekarang sementara dijalankan Pemprov NTT.

Tidak hanya itu, bahkan sekarang lahir lagi wacana baru tentang perempuan NTT menenun.

Wacana yang dicetuskan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat
terkait perda Perempuan NTT Menenun.

Halaman
1234
Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved