Di Kabupaten Lembata, Peserta UN Siap Hadapi Ujian

Sampai saat ini, belum ada laporan dari sekolah-sekolah bahwa ada siswa/siswi yang tak bisa ikut UNBK dan UNPK pada April 2019, karena hamil, sakit,

Di Kabupaten Lembata, Peserta UN Siap Hadapi Ujian
Pos Kupang.com/AMbuga Lamawuran
Ilustrasi: Sebanyak 599 boks soal Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) tiba di Kota Kupang, Selasa (12/3/2019). 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- "Sampai saat ini, belum ada laporan dari sekolah-sekolah bahwa ada siswa/siswi yang tak bisa ikut UNBK dan UNPK pada April 2019, karena hamil, sakit, atau sebab lainnya. Di Lembata, ada 1.779 peserta yang sudah siap mengikuti ujian tahap akhir tersebut."

Hal ini disampaikan Koordinator Pengawas (Korwas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Propinsi NTT Tingkat Kabupaten Lembata, Benyamin Beda Ruing, ketika dihubungi Pos Kupang.Com melalui telepon selulernya, Kamis (14/3/2019).

Saat dihubungi, Benyamin sedang berada di Kupang untuk mengikuti pertemuan yang membahas tentang UNBK/UNPK. "Saya sedang berada di Kupang mengikuti pertemuan tentang ini. Sampai saat ini kami belum mendapat laporan tentang peserta yang mungkin tidak mengikuti ujian nasional karena hamil atau faktor lainnya itu," ujarnya.

BREAKING NEWS: Ini Identitas Dua Warga Kota Kupang yang Jadi Tersangka Kasus Prostitusi Online

Menurut Benyamin, saat ini semua SMA/SMK baik negeri maupun swasta di daerah itu, telah siap melaksanakan ujian nasional. Meski menghadapi banyak kendala, namun umumnya sekolah di Lembata, sudah siap menyelenggarakan ujian berbasis komputer (UNBK) itu.

Hanya saja, lanjut dia, ada satu dua sekolah yang tak bisa menyelenggarakan UNBK karena faktor teknis. Masalahnya, adalah signal telekomusel tak bisa diakses dari sekolah itu. Salah satunya, adalah SMK Negeri Lamalera, SMA Negeri I Ile Ape dan SMK Negeri Balauring.

Pada sekolah itu, lanjut dia, fasilitas UNBK seperti komputer sudah siap, tapi signal telkomsel tidak ada. Olehnya, niat untuk menyelenggarakan UNBK terpaksa diurungkan karena faktor teknis tersebut. Solusinya, sekolah itu akan menyelenggarakan ujian nasional pensil dan kertas (UNPK) bagi para peserta.

Ada juga peserta, lanjut Benyamin, terpaksa mengikuti UNBK pada sekolah lain. Itu dialami SMK Negeri Atadei. Siswa sekolah itu akan mengikuti UNBK pada SMK Swasta Kawula Karya Lewoleba. Itu artinya, sekolah negeri mengikuti UNBK pada sekolah swasta hanya karena faktor signal.

Gara-gara signal, kata dia, ada sekolah yang berkemungkinan menyelenggarakan UNBK secara offline. Artinya, manajemen sekolah itu mendownload soal dengan memanfaatkan jaringan internet di tempat lain, lalu mentransfer soal-soal itu ke komputer di sekolahnya, agar siswa mengerjakan soal-soal UNBK itu.

Proses download soal-soal tersebut, kata dia, tentunya dalam pengawasan ketat aparat keamanan. Demikian juga saat mentransfer soal-soal itu ke sistem komputer yang sudah disiapkan di sekolah. Semuanya dalam pengawalan aparat keamanan. Maksudnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Jadi di Kabupaten Lembata itu, problema pelaksanaan UNBK-nya seperti itu. Kami optimis ujian nasional akan berjalan sesuai jadwal yang sudah ada. Dan, semua siswa juga sudah siap mengikuti ujian akhir tersebut," ujarnya. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved