Berita Cerpen

Cerpen: Dian Cerpen Riko Raden

Dian adalah nama pena seorang gadis yang pernah ada dalam hatiku. Saat pertama kali aku mengenal diri dan namanya.

Cerpen:  Dian Cerpen Riko Raden
ILUSTRASI/AMAZON UK
Dian Cerpen Riko Raden 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Dian adalah nama pena seorang gadis yang pernah ada dalam hatiku. Saat pertama kali aku mengenal diri dan namanya, saat itu aku yakin bahwa Dian adalah tipe setia, murah hati dan selalu ada untuk sang kekasihnya.

Di tepi pantai kami selalu setia memandang senja, kadang menukar pikiran tentang senja yang saban hari selalu meninggalkan bumi. Kadang pula memikir tentang ombak yang selalu datang pada waktu yang tidak tepat.

"Enu!" Aku memangggilnya dengan nada halus.
"Iya kakak!" Jawabnya dengan nada halus pula.
"Saat kutatap matamu, ada rasa aneh dalam hatiku."
"Rasa aneh seperti apa kak!"

Umat Hindu di Belu Laksanakan Melasti di Pantai Pasir Putih

"Aku tidak mau kenangan kita di tepi pantai ini terhilang bersama senja yang digusur pergi. Aku ingin kenangan ini selalu bersama kita. Abadi selamanya."

"Kak, saat pertama kali aku menatap dirimu di ruangan kelas itu, saat itu pula aku mulai jatuh hati. Aku tidak tahu mengapa ada perasaan itu dalam hatiku. Aku sangat bahagia karena perasaanku itu telah terjawab ketika sepucuk surat dari kakak telah kubaca. Ternyata ada perasaan yang sama hanya karena aku malu mengatakannya kepada kakak."

"Iya enu. Saat aku menulis surat untukmu ada rasa ragu apabila engkau tidak menerima surat itu. Tetapi, bersyukurlah karena dirimu juga mengatakan hal yang sama pada surat balasanmu."

Aku sekali-kali mencium keningnya. Dia tidak merontak ataupun melawan mungkin dia tahu bahwa aku tulus mencintainya. Aku memeluknya sembari melihat senja yang pelan-pelan meninggalkan bumi.

Di tepi pantai ini, kami terus menikmati kesegaran angin senja, mendengar keluh kesah ombak di setiap deburannya di bibir pantai. Kami tidak peduli dengan keadaan ombak yang semakin mendekati kami di bibir pantai ini. Ombak terus berusaha mendekati kami, kadang dia membasahi kaki kami, kadang pula dia berteriak saat aku terus memeluk tubuh Dian. Langit menjadi gelap, guntur bergemuruh. Senja telah pergi dan gelapnya malam pun mulai melintasi pinggir pantai ini.

Aku mencoba merayu Dian supaya bergegas dari pinggir pantai ini. Dian pun
enggan untuk meninggalkan tempat ini. Atau mungkin dia ingin supaya moment ini tidak akan pergi saat kami pergi dari pantai ini.

Dian terus duduk di bibir pantai, kakinya sambil bermain air. "Enu, kita harus pergi sekarang karena malam semakin gelap." kataku padanya.
"Aku tidak mau kakak. Aku ingin terus berada di pantai ini. Aku ingin terus bersama kakak," jawabnya.

Halaman
1234
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved