Berita Puisi

Puisi: Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini

Puisi-Puisi Epi Muda : Celoteh di pagi hari, celoteh kita telah merasuk ketika kita menyapa pagi dengan gandengan tangan.

Puisi: Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini
ilustrasi/Banjarmasin.tribunnews.com
Celoteh pagi 

Puisi-Puisi Epi Muda
Celoteh di pagi hari

Celoteh kita telah merasuk
Ketika kita menyapa pagi dengan gandengan tangan
Kadang aku bergeming dan menari pada telapak tanganmu
Dan melompat mengikuti guraf-guraf tanganmu

Waktu pagi ada dalam guraf-guraf tanganmu
Telah lahir sebuah pengharapan bahwa:
"Kita yang celoteh di pagi hari
Mengumbar janji yang pernah di remuk oleh sang waktu
Ketika kita bersua di malam hari"
Waktu adalah pemisah setiap kata yang membuat celoteh kita bergantung.
Dan kau yag membenci waktu, megatakannya
"Biarlah celoteh kita sambung di pagi hari,mungkin maiam membenci kita
dan menyuruh waktu memisahkan kita"
(epi 2019)

Cerita pendek

Untuk gadis desa yang salah tafsir.

Cerita pendek kita telah usang,
kata dan perbuatan bertentangan dan melahirkan jeritan.
Kau yang kemarin menjawabi usulanku dan menyuruhku memetahkannya.
Kita bergandengan dan bersatu dalam cerita pendek ,
Cerita tentang lentera yang menerangi malam kita,
ketika kita terjaga oleh waktu.
Cerita pendek kita melahirkan kata yang bertebaran ,
seperti daun yang jatuh di musim gugur,
dan kita memungut kata demi kata menganyam habis suasana
Kau yang hari ini membuatku kesal, kesal dalam tanda kutip.
Kau belum mampu memahami cerita pendek kita.
Kau menafsirkan dengan nalurimu tidak dengan suara hatimu.
Kau bersandarkan pada mulut orang,
mulut yang selalu membumbuhi kata
Kau menganggap cerita pendek kita seperti embun yang bertahan sesaat
Dan menghilang tanpa jejak.

Doa seorang kakek tua

Kau yang awal berdiri dan tertekun
Mencairkan suasana di pojok doamu
Menantikan Sang Aktor menjemputmu di akhir kehidupanmu

Kau yang selalu merapal di hadapan Dia
Menyesal ajan dosa masa mudamu
Berharap Dia akan mengabulkannya

Kau tersenyum dalam dunia permohonanmu
Karena kau telah puas dengan hidupmu
Danmenantikan dunia impianmu

Kau membuka matamu yang keriput
Dan menyuruh Dia untuk menggartikannya

Kau selalu mengadu di akhir pekan
"Tuhan ..kapan Kau menjemputku"
Muda,2018

Kapan

Kita bersuara dalam sajak yang penuh dengan makna,
Terkapar akan suasana.
Cerita elok kita bernuansa dunia reflektif
Adalah kisah negeri seberang yang selalu mengeluh
Kapan tempo kita pulang melihat sosok yang melahirkan kita
Kapan kita merajut kisah bersama petualang sejatih yang
Menghabiskan masa tuanya untuk mencium tanah
Kapan kita yang dulu terlahir dari satu rahim
Kembali melingkari meja kebersamaan dalam makan malam kita bersama
Kapan kita kembali membasahi Susana bersama dengan humor yang berarti
(Muda 2019)

Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved