Ahli Geothermal Survei Panas Bumi di Watuwawer Lembata

Ahli Geothermal dari Universitas Indonesia ( UI), Dr. Yunus Daud sudah dua kali melakukan survei terhadap potensi Panas Bumi di Watuwawer

Ahli Geothermal Survei Panas Bumi di Watuwawer Lembata
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Manager PLN Rayon Lewoleba, Darius Uren 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Ahli Geothermal dari Universitas Indonesia ( UI), Dr. Yunus Daud sudah dua kali melakukan survei terhadap potensi Panas Bumi di Watuwawer, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, NTT. Survei dilakukan untuk memastikan kelayakan potensi energi itu untuk dieksplorasi.

Hal tersebut disampaikan Manajer PT PLN Rayon Lewoleba, Lembata, Darius Uren, ketika ditemui POS-KUPANG.COM di ruang kerjanya, Selasa (19/2/2019).

Dikatakannya, sejak pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM berencana mengeksplorasi panAS bumi Watuwawer itu, telah beberapa kali tim ahli dari Jakarta berkunjung ke Lembata. Salah satunya, adalah ahli geothermal, Dr Yunus Daud yang datang bersama 12 ahli lainnya dari Jakarta.

Ini Alternatif Jika Bendungan Kolhua tak Dapat Dibangun

Pada tahun 2018, lanjut Darius, dua kali tim tersebut datang ke Lembata. Pertama pada 3 Agustus, di mana tim itu berada di Lembata beberapa hari lamanya. Setelah itu tim dari Jakarta datang lagi pada Oktober - Desember 2018 lalu.

Selama di Lembata, kata Darius, tim tersebut melakukan survei ke beberapa tempat, baik di lokasi dapur alam Watuwawer maupun ke tempat-tempat lainnya, seperti di Waiwejak, Desa Nubahaeraka, Lewogroma dan desa-desa lainnya, termasuk Lusilame.

PLN Lembata Devisit Daya Gara-gara Mesin Rusak

Selama berada di lapangan, katanya, tim itu mengambil banyak sample, di antaranya, air panas, air dingin, batu, tanah, pasir dan komponen lainnya. Semua sample tersebut diambil untuk diteliti selanjutnya dilaporkan ke Divisi Energi Terbarukan, PLN Pusat.

Selain meneliti sejumlah sample tersebut, kata Darius, di kawasan panas bumi juga dipasang sebuah alat pendeteksi gempa bumi. Darius tak tahu pasti di mana alat tersebut dipasang. Namun pemasangan alat itu merupakan bagian dari survei sebelum panas bumi Watuwawer dieksplorasi.

Pemerintah pusat, lanjut dia, sudah mencanangkan area Flores dan Lembata sebagai salah satu kawasan energi terbarukan di Indonesia. Itu artinya, pemerintah sangat serius mengambil langkah-langkah konkrit untuk merealisasikan hal tersebut. Salah satunya adalah survei dimaksud.

Sampai saat ini, lanjut dia, pihaknya belum tahu seperti apa hasil survei yang dilakukan oleh tim ahli dari UI yang didampingi manajemen PLN pusat terkait panas bumi Watuwawer tersebut. Karena sesuai rencana, hasil survei itu baru diketahui setelah Maret 2019 mendatang.

"Sampai sekarang kami belum tahu hasil survei itu. Begitu juga dengan hasil kerja alat pendeteksi gempa bumi yang sudah dipasang. Tapi sesuai informasi yang kami terima, hasil survei itu akan diketahui setelah Maret 2019 nanti," ujarnya.

Menurut dia, di area panas bumi Watuwawer itu, pernah ada aktivitas pengeboran yang dilakukan oleh salah satu perusahaan panas bumi. Namun pekerjaan itu terhenti di tengah jalan dan tak dilanjutkan lagi sampai dengan saat ini.

Darius tak tahu alasan mengapa perusahaan pengeboran itu meninggalkan tempat tersebut. Tapi diperoleh informasi menyebutkan, pengeboran yang dilakukan saat itu hanya sampai pada kedalaman 800 meter. Padahal seharusnya sampai pada kedalaman 1.500 meter dari permukaan tanah.

"Mengingat eksplorasi nanti menghabiskan biaya besar, maka data lapangan yang dibutuhkan harus benar-benar valid. Untuk itulah tim ahli yang sudah berkunjung ke Lembata kini sedang mempelajari sample yang sudah diambil untuk mendapatkan kepastian soal potensi panas bumi itu," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved