Limbah RPH Oeba Merembes Sampai ke dalam Rumah Warga

Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Oeba Kota Kupang, sudah merembes hingga ke dalam sumur dan rumah warga.

Limbah RPH Oeba Merembes Sampai ke dalam Rumah Warga
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Limbah di RPH Oeba, Kota Kupang, NTT 

 Limbah RPH Oeba Merembes Sampai ke dalam Rumah Warga

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti

POS-KUPANG.COM | KUPANG- Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Oeba Kota Kupang, sudah merembes hingga ke dalam sumur dan rumah warga.

Pengakuan tersebut datang dari ketua RT 1, Kelurahan Fatubesi, Kecamatan Kelapa Lima, Rany Muskanan kepada POS-KUPANG.COM, di kediamannya, Selasa (12/2/2019).

Rany menjelaskan, setiap hari RPH mengalirkan limbah berbau bangkai berupa perut, kotoran dan tulang belulang hewan.

Limbah tersebut dialirkan melalui saluran langsung menuju aliran air yang biasa di pakai warga Fatu Besi, khususnya RT 01/RW 01 untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk mencuci dan untuk mandi.

Warga Kesal Limbah RPH Sampai ke Pemukiman

Daniel Hurek Sebut Limbah RPH Oeba Sudah Sangat Mengganggu

Aliran air tersebut menuju ke laut, sehingga kondisi di pantai pun memprihatinkan. Banyak sampah, tulang-belulang berserakan.

Parahnya, ketika terjadi hujan lebat maka air di saluran meluap bersama limbah potong. "Bahkan sampai masuk ke dalam sumur dan rumah warga. Bau busuk ada ulat-ulat sebesar telunjuk orang dewasa," kata Rany.

Rany bersama POS-KUPANG.COM, lalu memantau kondisi RPH Oeba. Disaksikan wartawan, terdapat lubang dari bak RPH untuk mengalirkan limbah ke saluran air yang biasa digunakan warga setempat.

Sampah-sampah, berupa botol, plastik, batang pisang, tali dan limbah potong menumpuk. Bau tak sedap menyeruak. Sementara kotoran hewan bertebaran di tempat-tempat ikat hewan.

Rany mengatakan, warganya sempat mendatangi pengelola RPH namun mereka tak digubris. "Kami capek, urus limbah ini. Kalau meluap kami warga yang turun dan angkut semua kotoran," keluhnya.

Rany berharap Pemerintah Kota Kupang harus RPH harus ditutup atau dipindahkan ke lokasi lain yang jauh dari pemukiman.

"Katanya mau pindah di Bimoku, tapi sampai hari ini tidak jelas realisasinya, sampai kapan kami menderita terus gara-gara limbah hewan dari RPH," keluh Rany. (*)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved