Kisah Anak Sekolah Kampung Kekadena-Malapadhu di Nagekeo Bertaruh Nyawa Demi Cita-Cita

Mengenakan pakaian seragam merah putih diapiti oleh beberapa orangtua mereka menyeberang sungai Malidewa.

Kisah Anak Sekolah Kampung Kekadena-Malapadhu di Nagekeo Bertaruh Nyawa Demi Cita-Cita
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Orangtua dan siswa Sekolah Dasar Koekobho dari Kampung Kekadena-Malapadhu saat menyeberangi Kali Malidewa di Desa Utetoto Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo, Senin (11/2/2019). 

Kisah Anak Sekolah Kampung Kekadena-Malapadhu di Nagekeo Bertaruh Nyawa Demi Cita-Cita

POS-KUPANG.COM | MBAY --Pagi itu, Senin (11/2/2018) sekitar pukul 06.00 Wita, beberapa siswa Sekolah Dasar dari Kampung Kekadena-Malapadhu Desa Utetoto di Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo sudah bergegas meninggalkan rumah, agar bisa sampai ke sekolah sebelum jam pelajaran dimulai.

Mereka merupakan siswa-siswi SDK Koekobho Desa Utetoto Kecamatan Nangaroro-Nagekeo.

Jarak dari Kampung Kekadena-Malapadhu menuju Koekobho sekitar 3 Kilo Meter.

Mengenakan pakaian seragam merah putih diapiti oleh beberapa orangtua mereka menyeberang sungai Malidewa.

Agar dapat sampai ke sekolah tepat waktu, mereka harus menantang derasnya arus Sungai Malidewa.

Warga setempat biasa menyebut Sungai itu Kali Malidewa, sewaktu-waktu dapat menghanyutkan nyawa jika tidak berhati-hati saat menyeberang ke sebelah kali.

Gubernur NTT Harapkan Patisipasi Masyarakat Sumbar Pada Pemilu Capai 80 Persen

Bahaya Virus Senoglosomania

Jembatan penghubung antar Kampung Kekadena-Malapadhu dengan Koekobho yang tidak tersedia memaksa para siswa tersebut harus bertaruh nyawa menyeberangi kali demi sampai ke sekolah.

Orangtua dan siswa Sekolah Dasar Koekobho dari Kampung Kekadena-Malapadhu saat menyeberangi Kali Malidewa di Desa Utetoto Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo, Senin (11/2/2019).
Orangtua dan siswa Sekolah Dasar Koekobho dari Kampung Kekadena-Malapadhu saat menyeberangi Kali Malidewa di Desa Utetoto Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo, Senin (11/2/2019). (POS KUPANG/GORDI DONOFAN)

Hampir setiap hari, mereka melakukan itu lantaran tidak ada jalan alternatif yang lebih dekat ke sekolah.

Saat musim hujan dan kadang banjir seperti saat ini, para siswa harus dihantar oleh orangtua karena tak bisa menyeberangi kali yang arusnya cukup deras jika musim hujan tiba.

Halaman
1234
Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved