BREAKING NEWS: Protes Putusan Hakim Warga Aejeti Datangi Kejaksaan Negeri Ende

Warga Desa Aejeti Kabupaten Ende Datangi Kejaksaan Negeri Ende. Mereka memprotes putusan hakim dan tuntutan jaksa yang dinilai terlalu ringan

BREAKING NEWS: Protes Putusan Hakim Warga Aejeti Datangi  Kejaksaan Negeri Ende
POS-KUPANG.COM/ROMUALDUS PIUS
warga Aejeti di Kantor Kejaksaan Negeri Ende 

Protes Putusan Hakim, Warga Aejeti Datangi Kejaksaan Negeri Ende

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Romualdus Pius
POS-KUPANG.COM | ENDE- Puluhan warga dari Desa Aejeti, Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende yang menjadi korban pengerusakan oleh sejumlah oknum warga di desa tersebut mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Ende, Selasa (12/2/2019).

Mereka memprotes keputusan hakim pada Pengadilan Negeri Ende yang memvonis para terdakwa dengan hukuman penjara selama 6 bulan.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut para terdakwa dengan tuntutan hukuman 8 bulan penjara.

Kedatangan mereka ke Kejaksaan Negeri Ende untuk mempertanyakan tuntutan kepada para terdakwa yang dinilai terlalu ringan sehingga berpengaruh pada putusan hakim yang hanya memvonis para terdakwa dengan hukum penjara selama 6 bulan.

Kapolres TTU Hormati Keputusan Hakim Kabulkan Gugatan Praperadilan Tersangka Kasus Korupsi

Seperti Ini Ekspresi Kristina Bataona Saat Mendengar Putusan Hakim

Abubakar dan Samsudin yang merupakan korban pengerusakan, mengatakan, putusan hakim kepada para terdakwa dinilai terlalu ringan mengingat kerugian yang dialami oleh para korban bagitu besar.

“Rumah dan segala isi yang ada di dalamnya rusak dan hancur. Sekarang kami terpaksa tinggal di rumah orang lain masa para terdakwa hanya dihukum 6 bulan,” kata Abubakar.

Abubakar mengatakan, kasus pengerusakan yang terjadi pada 22 September 2018 dilakukan oleh 24 orang warga di Desa Aejeti terhadap 11 rumah warga lainnya yang justru satu desa.

Namun setelah menjalani berbagai proses di kepolisian dan kejaksaan,  para terdakwa divonis hanya 6 bulan penjara.

Abubakar mengatakan, pengerusakan tersebut tidak saja membuat mereka kehilangan pegangan hidup karena tidak saja rumah beserta isinya yang dirusak namun juga perahu yang justru menjadi alat utama untuk mencari nafkah. Hidup mereka juga resah.

“Kami di Pulau Ende alat utama mencari ikan adalah perahu. Kalau perahu sudah dirusak itu sama saja dengan memutuskan rantai ekonomi warga karena kami tidak ada pendapatan lain selain mencari ikan,” tegas Abubakar.

Kerabat korban pengerusakan, Muhamad Natsir DM mengatakan, putusan hakim sangat melukai perasaan para korban karena hukuman 6 bulan tidak memberika efek jera kepada para pelaku.

Bahkan para pelaku justru dengan bangganya akan mengatakan bahwa meskipun mereka melakukan pengerusakan mereka hanya dihukum 6 bulan.

Natsir mengatakan, akibat dari pengerusakan tersebut para korban mengalami penderitaan fisik dan mental karena hingga kini para korban tidak lagi memiliki rumah dan juga harta benda lainnya.

Menurut Natsir, sesuai dengan aturan hukum yang berlaku semestinya para pelaku pengerusakan dihukum selama 4 tahun sesuai dengan KUHP pasal 170 tentang pengerusakan namun yang terjadi justru para pelaku hanya dihukum 6 bulan saja. (*)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved