Opini Pos Kupang

Bahaya Virus Senoglosomania

Bahasa asing, utamanya Bahasa Inggris dianggap sebagai ideologi bahasa paling pas diterapkan dalam kehidupan

Bahaya Virus Senoglosomania
www.shutterstock.com
ilustrasi 

Bahaya Virus Senoglosomania

Oleh : Viktorius P. Feka
Mahasiswa Pascasarjana FIB UGM

"Bahasa merupakan daya pemasyarakatan nan hebat, bahkan, barangkali yang terhebat yang (pernah) ada" (Sapir, 1949/1933/:15, dalam Ahearn, 2012:50).

POS-KUPANG.COM - Pernyataan Sapir ini tak dihadirkan begitu saja tanpa alasan. Alasannya secara sederhana, hemat saya, adalah bahwa bahasa manusia mesti diposisikan sebagai harta berharga yang perlu diawasi ketat.

Karena apa? Karena bahasa merupakan sarana terbaik untuk memasyarakatkan diri, kelompok, bangsa dan negara, dan sebagainya. Bahasa mesti dijadikan `gengsi identitas diri' penutur bahasa itu sendiri, bukan sebagai `sampah inferioritas'.

Persoalan gengsi bahasa tak perlu dilihat dari seberapa hebat menggunakan dan menguasai bahasa orang lain (baca: bahasa asing), akan tetapi pada bagaimana menggunakan dan menguasai bahasa sendiri (baca: bahasa nasional dan daerah). Karenanya, bahasa sendiri (nasional dan daerah) mesti lebih diagungkan ketimbang bahasa asing.

Sedih kala membaca berita beda pendapat antara Kadis Pariwisata NTT Marius Jelamu dan Kepala Kantor Bahasa NTT Valentina Lovina Tanate mengenai penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa (pengembangan) pariwisata (Pos Kupang, Minggu, 3/2/2019).

Membaca pernyataan Jelamu pada berita tersebut, saya tak tahan untuk mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT via Dinas Pariwisata kini tengah mempertontonkan `keangkuhan westernisasi'.

Keangkuhan jenis ini muncul karena persoalan ideologi bahasa. Bahasa asing, utamanya Bahasa Inggris dianggap sebagai ideologi bahasa paling pas diterapkan dalam kehidupan berbahasa, padahal tidak demikian.

Bahasa asing (Inggris) dilihat sebagai bahasa paling berkelas di dunia, sedangkan bahasa nasional dan bahasa daerah hanyalah bahasa yang berkelas lokal saja.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved