Berita Cerpen

Cerpen : Dear Wela Timung Cerpen Seryz Taku (CP)

Cerpen: Dear Wela Timung oleh Seryz Taku (CP).SENJA datang lagi. Sedang aku belum juga usaimerangkai kata tentang sebuah hati.

Cerpen : Dear Wela Timung Cerpen Seryz Taku (CP)
ilustrasi/
senja 2 

SENJA datang lagi. Sedang aku belum juga usai dan berhasil merangkai kata tentang sebuah hati, nama, dan rindu yang pernah kutemui di antara kabut dan gerimis di tempat baruku.

Ya, tentang nama indah yang pernah kukenal, tentang hati yang begitu dingin sedingin kota kami bertemu, dan tentang rindu yang lahir kemudian.

Di kota ini, kota yang oleh si pemilik lesung menamakannya, Kota Dingin. Entah. Akupun tak ingin tahu, mengapa dinamakan demikian. Yang ingin ku tahu saat ini adalah siapa nama gadis itu. Tidak lebih. Titik.

Jokowi Sebut Infrastruktur Modal Awal jika Indonesia Mau Bersaing

***
Suatu hari di jantung Kota Dingin.
"Namaku Fellyzha, " katanya sambil menulisnya pada sepotong kertas yang dibentuknya menjadi sebuah perahu. Yang katanya, perahu itu akan berlayar jauh hingga di pelabuhan cinta dan akan abadi."

"Namaku...."
"Chezz Patikawa, kan? Gadis itu memotong ucapanku.
"Iya, tepat, aku mengakui."
"Aku sudah mendengar namamu, bahkan oleh sahabatku, ia sering menunjukkan nama itu setiap kali kamu mengirim kata indah sebagai pengantar sesaat sebelum melepas lelah.

Aku juga pernah membaca pesanmu, bahkan aku simpan rapi kata-kata indahmu dalam dada. Terimakasih karena telah menghangatkan separuh hatiku yang terkadang kalah melawan serangan hembusan alam. Aku suka, gadis itu tersenyum.

"Terimaksih juga nona. Semoga kata-kata dan pertemuan kita di senja ini menjadi motivasi murni untuk mengabadikannya dalam sebuah cerita pendek. Ya, sebuah cerita yang mengisahkan tentang dua hati yang baru dipertemukan. Semoga abadi".

"Iya, maksih juga, Nana. Mulai saat ini, panggil saja aku, Enu, dan aku memanggil kamu Nana.
Ini adalah panggilan sayang untuk kami segenap penghuni Kota Dingin. Ini sudah mengakar dalam hati kami.

Legenda Real Madrid Ragukan Masa Depan Gareth Bale

"Makasih enu," jawabku.
Senyum manis yang melebar di sudut bibir gadis itu seolah mengubah keadaan menjadi suasana yang begitu damai dan semakin bersahabat.

Kamipun terus mencoba mengintip arti dibalik pertemuan itu.
Lagi-lagi cuaca tak bersahabat. Percikannya terus menghantam seantero Kota Dingin.

Halaman
1234
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved