Bangkai Kepala Sapi Ditumpuk di Tepi Pantai Oeba, Begini Penjelasan Ketua RT 17 Timotius Jan

Bangkai Kepala Sapi Ditumpuk di Tepi Pantai Oeba, Kota Kupang, Begini Penjelasan Ketua RT 17 Timotius Jan

Bangkai Kepala Sapi Ditumpuk di Tepi Pantai Oeba, Begini Penjelasan Ketua RT 17 Timotius Jan
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Kondisi pantai Oeaba Kupang. Senin (11/2/2019). 

Menurut kesaksiannya, kepala sapi yang membusuk hingga berulat acapkali mencemari air tawar yang mengalir dari kali (sungai) Oeba.

Mirisnya, air tawar yang sudah tercemar itu juga sebagian dimanfaatkan warga sekitar untuk keperluan membersihkan kandang babi dan keperluan pencucian lainnya.

Karena tercemar, ia pun pernah menegur langsung orang yang sering membuang bangkai kepala sapi di sana, tetapi hasilnya sama saja. Tak berdampak.

Ia menjelaskan penumpukan bangkai kepala sapi di lokasi pesisir pantai itu sudah berlangsung cukup lama.

Luisa mengatakan secara pribadi, ia sudah tak mempersalahkan pihak yang melakukan hal itu sebab ia sudah biasa melihat kondisi tersebut. Apalagi, lanjutnya, tempat itu juga jauh dari pemukiman penduduk dan tidak berdampak langsung terhadap mereka.

"Malu juga karena kami masih keluarga. Jadi kita juga perasaan untuk tegur. Biar sudah," tandasnya.
.
Tobias Ojan Liwu, warga setempat yang ditemui di pesisir pantai juga menandaskan hal serupa. Ia juga tidak pernah menegur langsung secara pribadi.

"Sudah lama sekali," katanya ketika ditanyai berapa lama bangkai hewan itu ditumpuk .
Secara pribadi, ia tidak merasa terganggu dengan bau menyengat dan dampak dari tumpukan bangkai kepala sapi itu karena lokasinya yang agak jauh dari rumah. Namun, katanya, pada musim hujan bau menyengat dari bangkai hewan itu bisa sampai ke pemukiman penduduk.

Setiap hari, kepala sapi yang dibawa dari rumah pemotongan hewan bisa berkarung-karung dan dibawa dengan menggunakan kereta dorong..

Ditemui terpisah di rumahnya, Ketua RT 17, Timotius Jan mengungkapkan bangkai kepala sapi itu memang sengaja ditumpuk di sana dengan maksud hendak dikeringkan sampai menjadi tulang-belulang. Setelah kering, tumpukan tulang itu akan diangkut dari lokasi tersebut guna ditimbang.

Menurutnya, warganya yang bertugas menumpuk kepala sapi di sana memang
mendapat penghasilan tetap dari hasil menimbang dan menjual tulang-tulang itu.

Halaman
123
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved