Renungan Harian

Kita Berhutang Nyawa untuk Berbuat Baik Bukan Sekedar Tampil Baik

Yang diperlukan dari diri kita adalah siap hidup tetapi juga juga siap mati. Karena itu, jangan sia-siakan kesempatan ini dengan melakukan hal-hal

Kita Berhutang Nyawa untuk Berbuat Baik Bukan Sekedar Tampil Baik
Dok Pribadi/Mesakh A.P. Dethan
Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Penulis :  Pdt. Dr. Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA

POS KUPANG.COM, KUPANG - Ada sebuah lagu yang dirilis tahun 2015, tetapi baru viral pada tahun 2017 dan 2018 bahkan terus viral hingga 2019 ini setelah lirik lagu aslinya diubah sedikit liriknya oleh Pdt. D.Y. Surbakti. Lagu itu adalah “Hidup ini adalah kesempatan.

Sesungguhnya lagu ini dikarang oleh Pdt. Wilhemus Latumahina untuk mengenang anaknya yang mati muda karena kecelakaan. Pesan lagu ini bahwa hidup adalah sebuah kesempatan. Orang percaya tidak punya banyak waktu di dunia ini bahkan kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggilnya.

Beberapa orang diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama tetapi ada pula orang yang diberikan kesempatan hidup hanya sebentar saja. Ini bukan tentang berapa lama waktu yang Tuhan berikan, namun seberapa efektif kita menggunakan waktu yang Tuhan berikan. Jika orang selama hidup bisa hidup dengan baik, sebetulnya dia sudah mempersiapkan kematiannya pula dengan baik.

Yang diperlukan dari diri kita adalah siap hidup tetapi juga juga siap mati. Karena itu, jangan sia-siakan kesempatan ini dengan melakukan hal-hal yang tidak baik.

Gunakanlah kesempatan hidup ini untuk memberkati orang lain.  Itulah yang Yesus maksudkan dengan hidup yang memberi buah dalam Injil Yohanes 12:20-26!

Menurt Udo Schnelle (Lihat Udo Schnelle, Einleitung in das Neue Testament, 5. Auflage, Vandenhoeck & Ruprecht, GÖTTINGEN, 2005, Hal. 517) cara bercerita Injil Yohanes tentang  kisah kehidupan Yesus berbeda dengan dengan cara bercerita Injil-Injil Sinoptik. Misalnya Tidak seperti Injil-injil synoptik yang menempatkan penyucian bait Allah hampir pada akhir hidup Yesus (Band. Mrk 11:15-17; Mat 21:12-13; Luk 19:45-48), Injil Yohanes justru menempatkann cerita penyucian bait Allah  pada awal kisahnya (Yoh 2:14-22).

Hal ini bagi Schnelle penulis Injil Yohanes mau menekankan pemikiran teologisnya yang mendasar bahwa Yesus adalah anak Allah yang merendahkan diriNya. Pemikiran teologi ini sudah sejak awal dilukiskan dalam prolog injil Yohanes (Yoh 1:1-14). Seluruh kisah dan karya Yesus di dalam dunia sudah sejak awal dilihat dalam perspektif salib (Yoh 1:29,36).[1] Melalui seluruh peringatan akan penderitaannya dalam seluruh Injil Yohanes (band. Yoh 2:1,4c; 10:11,15,17; 11:13; 12:16,32 dyb; 13:1-3,7,37;15:13;17:19;18:32).

Semuanya itu mau menjelaskan bahwa Allah yang berinkarnasi itu adalah Allah yang menderita dan mati disalibkan. Inkarnasi dan salib sama-sama menonjolkan Kasih dan pengorbanan Allah bagi dunia.

Kisah pembasuhan kaki murid-murid adalah contoh dimana Tuhan Yesus mengajarkan para murid untuk saling merendahkan diri dan saling melayani satu sama lain (Yoh 13:1-20), memberi teladan untuk taat kepada kehendak Allah Bapa (band. Yoh 13:1,32; 14:31; 17:5; 19:11), menggenapi kitab suci (Yoh 19:28).  

Halaman
1234
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved