Berita NTT Terkini

Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak - Dinas PPPA NTT Bentuk PATBM

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A ) Provinsi NTT membentuk Perlindungan Anak membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis

Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak - Dinas PPPA NTT Bentuk PATBM
Pos Kupang.com/Obi Lewanmeru
Kadis P3A NTT, Erni Usoko,M.Si

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM/KUPANG - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A ) Provinsi NTT membentuk Perlindungan Anak membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Forum ini melibatkan tokoh masyarakat,tokoh pemuda dan tokoh agama.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas P3A Provinsi NTT, Dra. Erny Usboko,M.Si , Selasa (5/2/2019).

Menurut Erny, salah satu upaya atau tindakan yang ditempuh Dinas P3A NTT untuk mencegah kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yakni dengan membentuk PATBM.

"Saya contohkan di Kota Kupang itu ada di dua kelurahan, yakni di Kelurahan Bakunase dan Nunhila," kata Erny.

Sedangkan di Kabupaten Kupang ada di Oebelo dan di Kuaklalo, di TTS , PATBM ada di Desa Keke dan Ksetnana.

Dijelaskan, pembentukan PATBM itu merujuk pada UU 17/2016 tentang Perlindungan Anak.

Kasus Kekerasan Terhadap Anak - Ini Tanggapan Forkom P2HP NTT

Sebelum Perkosa Anaknya Ayah Di Oebufu NTT Ini Sempat Lakukan Hal Sadis Ini Di Kamar Kost

Ditanyai soal proses pendampingan, ia mengatakan, ada korban dan keluarga tidak ingin untuk didampingi, namun jika dinilai darurat dan mendesak,.maka Dinas PPPA akan mendampingi.

"Jadi tidak semua masyarakat yang menjadi korban mau didampingi,. Untuk kasus ini kami juga mempertimbangkan hak azasi manusia," katanya

Menurut Erny, tidak semua korban pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak dan perempuan bisa didampingi.

Di Kabupaten Lembata, Banyak Kades Tak Mau Simpan Beras Raskin

"Ada keluarga yang tidak ingin didampingi karena itu banyak sekali kasus yang langsung dilapor ke polisi. Jadi soal pendampingan terhadap korban kita tetap siaga," kata Emy.

Dikatakan, ada korban dan keluarga yang tidak bersedia didampingi dengan alasan tertentu, seperti takut jika nanti terekspos. Karena itu, untuk pendampingan terhadap korban ada mekanisme tersendiri. (*)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved