Berita Puisi

Puisi: Agust Gunadin Tahun Penuh Kerinduan

Puisi-puisi Agust Gunadin: Tahun Penuh Kerinduan,Di balik bayang-bayang hujan Januari.

Puisi:  Agust Gunadin Tahun Penuh Kerinduan
ilustrasi/kaskus
Puisi: Agust Gunadin Tahun Penuh Kerinduan 

Puisi-puisi Agust Gunadin
Tahun Penuh Kerinduan

Di balik bayang-bayang hujan Januari
Masih ada himpitan juga tekanan
Antara kepulan debu yang ingin merayap
Pada jejaring tubuh manusia
Masih ada kerinduan yang ingin diimpikan
Namun, ada suatu sebab yang tak menyatu
Mungkin menamainya kesatuan kaku
Sejak manusia berada dalam esensi
Ada sekeping rindu ingin berlayar kembali
Namun antara kata kewajiban dan kerinduan
Seringkali disamaratakan
Tetapi ini sebuah puisi dalam bentuk doa
Menyemat untuk makhluk yang ber-Tuhan
Menarik kembali tentang sebuah ingatan
Doa bukan soal hak dan kewajiban
Tetapi sebuah kerinduan dalam
Memazmurkan kidung kemulian
Sebab madah sebagai makhluk ber-Tuhan
Hanya harapan mencapai sebuah kerinduan
(Camillo, 12/1/19)

Pasukan Anti Huru Hara Lantamal VII Pukul Mundur Pengacau Pemilu

Manusia Seringkali Menuduh

Tanganku sesungguhnya masih kaku
Menuduh puisi ini sebagai kata bergentayang namun tak mendarat
Mungkin terlalu pagi untuk melukiskan, namun sore itu telah berlalu
Itu memang sebuah malum
Dalam diri manusia yang tak mudah puas
Sebab banyak nyawa melenyap
Karena tanah sebagai puncak kegembiran namun menetas dalam kesedihan
Ada cerita yang ingin tergores dalam tanah
Aku dan kamu bukan sebagai kita
Tetapi sebagai lawan
Manusia mematahkan sayap kehidupan sesamanya
Hatinya sekian tahun mengeram dalam kebencian
Teringat akan kekejian
Lalu melihat yang lain sebagai "Homo Homini Lupus"
Menuduh tanah sebagai malapetaka
Tanpa mempertanyakan
Aku ke mana dan untuk siapa?
(Maumere, Gnd; MI 2019)

Lantamal VII Kupang Gelar Apel Pasukan Latihan Pengamanan Pileg dan Pilpres 2019

Alasan Mengapa Kita Memilah

Alam ini seringkali murah saja
Memberi segalanya tanpa membutuhkan balasan untuk membayar
Sebab hujan jatuh di mana saja tanpa memilih dan memilah
Sejenakku memikir
Mengapa kita (manusia) seringkali memilih dan memilah?
Aku pun tertegun pada pilu
Sebab hujan masih saja berhambur
(Buccianico: Gnd, Cbl 2019, pengagum kata San Camillo-Maumere)

Puis Gensy Fallo
Dari Tepi Gelas

Dari tepi gelas
Aku berorasi kepada kopi yang mengampas
Mengapa manis yang kau tawarkan?
Mengapa bukan sianida yang mematikan?
Dari tepi gelas
Mata melek penegak hukum menoleh sinis
Diberi lagi gula sekadar memanis lidah
Bungkamlah suara serak tertimbun janji-janji sepah
Dari tepi gelas
Aku melihat bangsa ini dan tertawa gemas
Yang sedari kekal hingga kekal tetap lemas
Bertingkah seakan di hatinya tak lagi ide terlintas
Dari tepi gelas
Aku masih gelisahkan diam bangsa ini
Entah sampai kapan akan lekas bangkit tegas
Sekadar melawan diam yang tak pernah naik kelas
Dari tepi gelas
Aku tuliskan puisi ini
Sebagai undangan terhormat bagi kamu yang di teras
Lekas minum puisi ini agar melek matamu: koruptor tengah menindas.

(Rakyat Ampas Kopi, 18 Januari 2019)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved