Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Walaupun Yesus menganjurkan untuk mengalah dan sabar, tetapi jika Ia melihat sesuatu yang telah melawan keadilan dan kasih Allah, maka ia melawan dan melabraknya. Persembahan bukan lagi kerelaan melainkan sebuah paksaan baik secara halus maupun kasar. Apalagi kalau persembahan telah berubah makna sebagai suatu "kewajiban setoran", tontonan atau bahkan untuk "makan puji".

Mengenai persembahan dalam ibadah gereja Para rasul, terutama Paulus, lebih menekankan kerelaan di dalam persembahan kepada Tuhan Allah (2 Kor 9:7: "7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."). Jadi tidak ada paksaan, atau melalui cara seperti "bandwagoneffect" tadi, seperti yang sudah saya jelaskan itu. Penekakan Paulus mengenai persembahan yang benar pada kerelaan, keadilan dan kasih Allah (2 Kor 9:7-10).

Dalam kisah penyucian Bait Allah ini Tuhan Yesus membuktikan dirinya bukan orang yang lemah dan takut, tetapi orang yang berani dan tegas. Oleh sebab itu pengorbanan Yesus disalib menurut para penginjil dan para Rasul terutama Rasul Paulus, bukanlah tanda kelemahan atau kebodohan, melainkan tanda kekuatan Allah itu sendiri.

Dalam 1 Kor 1: 18 Paulus berkata: "18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."

Kisah penyucian Bait Allah oleh Yesus adalah kisah awal yang mengantar kepada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Itulah sebabnya menurut Yohanes 2: 19 mengatakan ""Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Bait Allah dalam pengertian Yesus adalah tubuhNya, atau pengorbana dirinya. Rasul Paulus kemudian menulis bahwa bait Allah yang sesungguhnya adalah adalah orang beriman itu sendiri, sebagai penjelmaan dari Tubuh Kristus.

Gereja menurut Paulus adalah tubuh Kristus. (Rom 12: 6: "5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." Tubuhmu adalah bait Allah menurut Paulus, karena itu dalam 1 Kor 6:13 ff untuk menjaga kekudusan tubuh sebagai bait Allah. Jadi makna kisah die Tempelreinigung adalah supaya menjada kekudusan dari bait Allah itu sendiri.

Oleh karena itu, pengorbanan Yesus disalib bukanlah tanda kelemahan. Ia tidak menyerah pada penindasan. Tetapi pengorbanan disalib adalah jalan untuk menebus dosa manusia. Jesus menanggung kutuk dosa manusia, sehingga dengan demikian manusia diselamatkan dari dosanya.

Pelajaran dari Jesus dalam kisah ini adalah lawanlah apa yang salah. Kadang kita biarkan yang buruk dan salah berlaku. Sikap buruk kadang menguasai dan menindas kita dan kita anggap sebagai hal yang biasa. Korupsi pada pengurusan KTP, SIM surat tanah, surat ijin ini dan itu, dll. Di negara-negara maju dan beradab hal semacam ini sudah ditinggalkan. Seperti kisah keberanian empat pemuda di atas (di awal tulisan ini) bahwa kelemahan bisa menyuburkan penindasan, maka jangan menunjukkan kelemahan. Bila perlu lawanlah gertakan dengan gertakan.

Pada aspek yang lain, budaya dan tradisi masyarakat NTT dan ditempat-tempat lain di Indonesia masih memberi ruang pada penindasan kaum perempuan. Karena budaya masyarakat di tanah air kita yang cenderung membuat posisi perempuan rentan mengalami kekerasan dan penindasan oleh kaum pria.

Oleh karena pada kesempatan ini saya mengajak kaum perempuan untuk berani melawan penindasan, apalagi jika ditindas oleh suami yang egois dan "petabak" (pemabuk, malas, harap gampang dan tidak mau kerja apa-apa, apalagi kalau disuruh belajar bahasa Inggris, lebih gila lagi petabaknya, hehehe). Kaum Perempuan harus bersikap tegas saat diperlakukan tidak adil.

Karena seringkali wanita menerima perlakukan buruk apalagi sering terjadi dalam lingkungan keluarga apalagi bila korbannya terus membisu dalam sebuah "rumah" selama berpuluh tahun, tanpa perlindungan dari siapa pun, khususnya negara. Mungkin baik kalau kita belajar juga dari kisah tentang Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik Belanda yang dijual oleh ayahnya sendiri demi harta dan kekayaan. Namanya Sanikem, tetapi orang-orang Wonokromo dan Surabaya mengenalnya sebagai Nyai Ontosoroh. Seorang Perempuan yang berani melawan keangkuhan hukum Belanda.
Alkisah, Nyai Ontosoroh atau Sanikem adalah anak dari seorang juru tulis pada pabrik gula di Tulangan bernama Sastrotomo. Dia termasuk tipe laki-laki yang gila kuasa dan kekayaan. Dihormati karena satu-satunya orang yang mampu baca tulis di desa. Sostrotomo bercita-cita menjadi seorang juru bayar.

Sayangnya, untuk mencapai cita-cita itu tak segan menjilat dan berkhianat. Singkat cerita, ia sanggup melakukan apa saja untuk menggapai capai cita-citanya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, seorang pengusaha Belanda paruh baya bernama Herman Mellema datang ke rumah dan menebar janji. Sastrotomo meminta Sanikem berdandan secantik mungkin di hadapan tamunya itu. Sementara sang ibu menangis tersedu-sedu di sudut ruangan.
Sanikem sudah curiga.

Tapi ia tetap menjalankan titah ayahnya. Laki-laki mana yang tidak suka melihat kecantikan dan keindahan dan kemolekan tubuh Sanikem yang bohai. Herman Mellema tergiur.

"Secepatnya saja kowe antar anak itu ke tempat saya. Saya janji akan memberi imbalan yang memuaskan kowe." katanya kepada ayah Sanikem.

Kebahagiaan Sastrotomo pun terpancar. Sebentar lagi ia akan menjadi orang terhormat. Dihormati para pedagang, mandor, buruh, orang Eropa dan Peranakan meskipun harus membayar mahal dengan menjual anak gadisnya yang baru berumur 14 tahun. Sanikem dijadikan gundik atas kehendak ayahnya sendiri.

Inilah awal kebencian Sanikem kepada ayahnya. Inilah awal bagaimana dendam itu menghiasi hidupnya. Hidup sebagai gundik tak ubah budak belian yang setiap waktu harus memuaskan tuannya. Dalam segala hal. Dan setiap waktu bisa dicampakkan bila sang tuan sudah merasa bosan dan tak membutuhkannya lagi. Orang-orang tanah Jawa menyebut gundik dengan kata yang halus, Nyai.

Namun sayangnya saat itu kata `Nyai' seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Bahkan merujuk pada perempuan bermoral rendah. Meski Nyai melahirkan anak dari seorang Eropa, pemerintah Hindia Belanda saat itu tidak pernah menganggap perkawinan itu syah.

Pemerintah Hindia Belanda hanya mengakui anak tapi tidak bagi perempuan pribumi yang dijadikan gundik. Disinilah letak tidak manusiawinya hukum Eropa kepada manusia lainya.

Masyarakat hanya melihat secara kasat mata bahwa kehidupan seorang nyai bisa dibilang enak, bergaul dengan bangsa Eropa, dan tinggal di rumah mewah. Tapi benarkah?

Semua itu tidak berarti bagi Sanikem yang telah merasa harga dirinya direbut. Ia dendam kepada orang tuanya. Lantas ia berusaha bangkit dengan belajar segala pengetahuan Eropa. Dia belajar tata niaga, belajar bahasa Belanda, membaca media Belanda, belajar budaya dan hukum Belanda. Sebab dia berharap pada suatu hari semua pengetahuan itu akan berguna untuk dirinya dan anak-anaknya.

"Aku harus buktikan pada mereka, apapun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, meskipun hanya sebagai nyai. Sekarang Sanikem sudah mati, yang ada adalah Nyai Ontosoroh."

Itulah tekadnya. Kisah Nyai Ontosoroh, bisa jadi berulang walau dalam bentuk yang berbeda dalam masyarakat NTT dalam bentuk Perdaganngan Orang (Human Trafficking), dimana banyak orang tua rela melepaskan anak gadisnya untuk bekerja di luar negeri, menjadi TKI, atau TKW baik secara legal maupun ilegal karena terbujuk iming-iming para calo dan oknum pelaku perdagangan orang, pada hal ujung-ujungnya mereka sengsara ditindas dan diperlakukan tidak manusiawi.

Jadi terhadap apapun yang menindas kita harus melawan, tetapi melawan tidak dengan membabi buta, tetapi dengan kecerdikan. Yesus berkata dalam Matt 10: 16: "sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved