Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Mengapa para rabi ribut mengenai pengolalaan Bait Allah, karena sebetulnya mereka berebutan untuk mengurus pengelolaan bait Allah yang ujung-ujungnya bermuara pada uang, dan apalagi orang yang ditunjuk untuk duduk di meja-meja penukaran uang (sesuatu yang dianggap sebagai tempat basah, di Indonesia, artinya sesuatu yang ada hubungan dengan uang dan kedudukan yang menguntungkan).

Kadang umat yang datang membeli hewan kurban membayar dengan uang besar, tetapi dengan alasan tidak ada uang kembalian yang pas, maka kadang sisa kembalian uang kecilnya masuk ke kantong si penukar.

Di beberapa tempat di Indonesia ada toko-toko yang kalau memberi uang kembali, uang kecilnya digantikan dengan gula-gula, karena beralasan tidak ada uang kecilnya yang pas, pada hal sebenarnya mungkin sekali ia mau supaya gula-gulanya juga turut laku (he he he), entah si kasir atau pelayan toko pikir kita suka gula-gula atau tidak, apalagi pikir mungkin si pembeli ada sakit gula, tetapi mereka tidak peduli.

Yesus melihat upaya untuk memberikan persembahan kepada Tuhan telah dijadikan bisnis. Itulah sebabnya para rabi dan atau kelompok mereka berebutan untuk duduk dibangku-bangku penukaran uang itu.

Selain itu orang miskin mungkin saja ia tidak punya uang, tetapi ia "terpaksa" harus membeli hewan persembahan dan paling kurang burung merpati, karena semua orang juga sudah berderet dalam antrian untuk melakukan hal yang sama.

Orang memberi persembahan bukan karena kasih dan kerelaan lagi, tetapi karena tersugesti dan dipaksa secara halus untuk memberi. Hal ini bagaikan "Bandwagon effect", sebuah istilah Jerman yang artinya orang disugestikan untuk melakukan sesuatu, karena semua orang juga melakukan hal yang sama.

Orang cenderung melakukan apa yang dilakukan orang banyak tanpa mungkin berpikir dengan jernih apalagi lahir dari hati nurani dan kasih serta kerelaan kepada Allah. Dan praktek itulah yang dilakukan oleh para rabi pengelola bait Allah, dimana mereka melakukan upaya penjualan hewan-hewan persembahan itu di tempat terbuka, di halaman depan bait Allah (im Vorhof des Tempels) supaya menjadi tontonan dan alat sugesti.

Dengan demikian cerita Yesus Menyucikan Bait Allah (die Tempelreinigung), yang di ceritakan bukan saja oleh ketiga injil Synoptik, tetapi juga injil Yohanes ini, mau menekankan bahwa Yesus bersikap tegas terhadap para rabi Yahudi yang bertugas mengelola bait Allah itu. Dan karena itu Tuhan Yesus turun tangan langsung mengobrak-abrik sistim dan tradisi pengelolaan bait Allah oleh para rabi Yahudi itu, termasuk pola persembahan kepada Tuhan Allah.

Itulah sebabnya, dan ini salah satu kemungkinan makna dari kisah ini, mengapa orang Kristen di kemudian hari hingga sekarang ini tidak lagi mengikuti cara persembahan orang Yahudi itu. Kalau TuhanYesus tidak mengobrak abrik dan mengusir orang yang keliru mengelola Bait Allah, mungkin saja kita sampai sekarang masih memakai cara persembahan orang Yahudi, dimana musti ada tempat untuk taruh domba- domba dan merpati. Mungkin petugas gereja si A yang urus burung merpati, dan si B yang urus kambing domba. Ha ha ha.

Jadi Jemaat-jemaat musti siap hewan-hewan persembahan untuk dijual kepada umat yang datang berbakti, dan saya kira stand burung merpati akan laku keras, karena orang-orang miskin, seperti saya, pasti akan membeli burung merpati. Tapi Yesus telah mengubah tradisi ini. Kita melihat disini bahwaYesus melawan sebuah kebiasaan atau tradisi yang buruk.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved