Renungan Harian

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk

Renungan Harian Kristen Protestan: Kita Harus Berani Melawan Kejahatan, Tradisi dan Kebiasaan Buruk
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Jadi dengan kita melihat lebih detail cerita ini, maka kita akan merubah sikap pemahaman yang salah mengenai sikap Yesus dan tidak lagi menganggap sikap Yesus yang lemah lembut sebagai penakut dan tidak berani melawan.

Dari kisah Matius 21:10-17 ini membuktikan siapa Yesus sebenarnya, bahwa Yesus bukanlah tipe orang yang lemah dan penakut. Ia adalah seorang pemberani dan bertindak tegas terhadap apa yang salah dan keliru. Ketika Yesus masuk ke kota Yerusalem dan tiba di Bait Allah ia melihat praktek ibadah di Bait Allah cenderung menjurus kepada bisnis dan uang dari pada penekanan kerelaan dan kasih yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Apa yang dilihat Yesus dalam Bait Allah? Pada bait Allah ada banyak bagian yang penting. Salah satunya bagian dasar dari bait Allah biasa ada kawasan dimana domba-domba yang hendak dijual ke umat yang datang untuk mempersembahkan korban persembahannya di Bait Allah. Dan para rabi tertentu bertugas mengatur lalu lintas perdangangan itu.

Domba-domba itu didagangkan di halaman depan Bait Allah. Memang di antara para rabi sendiri tidak ada kata sepakat mengenai hal ini. Selain domba yang dijual di halaman Bait Allah itu, juga ada stand atau kawasan untuk penjualan burung merpati. Keduanya diatur oleh para pejabat pengelola bait Allah dan sebagai sumber masukan bagi pajak Bait Allah. Agar supaya masyarakat yang datang bisa membeli hewan persembahan sesuai dengan nilai mata uang yang pas dan juga untuk kepentingan pembayaran pajak Bait Allah, maka di aturlah petugas-petugas penukar uang beserta dengan meja-meja dan bangku mereka masing-masing.

Stand atau tempat yang paling ramai tentu saja adalah stand burung merpati. Mengapa? Karena mempersembahkan burung merpati adalah persembahan orang-orang kecil dan miskin. Uang mereka tidak cukup untuk membeli domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi hanya cukup untuk membeli burung merpati dan itu sudah cukup memenuhi syarat minimal untuk membawa korban persembahan kepada Allah.

Di halaman depan Bait Allah ini juga duduk para pengemis dan orang cacat yang meminta sedekah dari orang-orang yang datang ke Bait Allah. Inilah situasi ketika Yesus tiba di Bait Allah di Yerusalem.

Ketiga penulis Injil (Matius, Makus, Lukas) sama sekali tidak menceritakan bahwa Yesus tidak marah kepada para pengemis dan orang cacat, tetapi ia marah kepada para pejabat pengelola Bait Allah dan para penukar uang yang ada, sehingga ia membalikkan meja-meja dan membubarkan mereka. Mengapa?

Alasan mengapa Yesus marah dan bertindak kasar, bukan karena Tuhan Yesus sedang mabuk dan memiliki emosi yang tidak terkendali. Sebab kalau mau bilang mabuk karena minum anggur, kisah ini sama sekali jauh dari peristiwa pesta pernikahan di kota Kana itu, dimana disitu mereka minum banyak anggur, bahkan ketika anggur habis pun Yesus mengubah air menjadi anggur lagi, sehingga mereka tidak kehabisan anggur selama pesta pernikahan itu (lihat Yohanes 2:1-11). Juga bukan karena Yesus telah lupa kepada ajaran-ajarannya sendiri mengenai kasih, kesabaran dan kelemahlembutan.

Alasan yang paling kuat mengapa Yesus marah didasarkan pada sikap orang farisi dan para para pengelola bait Allah yang telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah dalam hubungan dengan peribadatan dan persembahan korban di Bait Allah. Dalam Lukas 11:42: ,Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Tuhan Yesus melihat pola peribadatan dan persembahan kepada Allah telah menyimpang jauh dari Inti Ajaran Taurat yang sesungguhnya yang bertumpu kepada keadilan dan kasih Allah. Ibadah malah dijadikan bisnis oleh para pengolala bait Allah, dan banyak para pekerja di Bait Allah termasuk para penukar uang mencari keuntungan di atas kesempitan dan kelemahan orang miskin.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved