Pilpres 2019

Di Solo, Erick Thohir Ajak Masyarakat Jangan Pesimistis pada Negara, Ini Alasannya

Di Solo, Erick Thohir Ajak Masyarakat Jangan Pesimistis pada Negara, Ini Alasannya

Di Solo, Erick Thohir Ajak Masyarakat Jangan Pesimistis pada Negara, Ini Alasannya
KOMPAS.com/Rakhmat Nur Hakim
Ketua TKN Jokowi-Maruf, Erick Thohir di Kantor Wapres 

POS-KUPANG.COM | SOLO - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Erick Thohir, mengajak masyarakat untuk tak pesimistis pada negara karena Indonesia merupakan bangsa yang besar.

Hal itu dikatakannya saat acara Flashmob Kebangsaan untuk NKRI di Benteng Vastenburg Solo, Minggu (27/1/2019).

"Kita harus optimistis Indonesia menjadi bangsa yang maju, secara ekonomi kita mampu tumbuh di atas lima persen," kata Erick, seperti dikutip dari Antara.

Sembari Kepalkan Tangan, Khofifah Berucap Kita Deklarasikan Warga Muslimat NU Anti-hoaks

Dengan kondisi Indonesia saat ini, ia yakin pada ulang tahun ke-100 Republik Indonesia pada 2045, bangsa ini akan lebih besar dari negara yang pernah menjajah yaitu Belanda dan Jepang.

"Kalau banyak orang yang bilang kita lebih besar dari negara yang pernah menjajah kita, kenapa harus pesimistis," kata dia.

Said Aqil Siradj Sampaikan Pesan Perpisahan Kepada Para Muslimat NU

Erick mengatakan, masyarakat Indonesia pasti tidak mau melihat negara bubar. Oleh karena itu, Indonesia harus dibangun atas dasar persatuan.

"Jangan didasari atas kebohongan. Saya berharap semua yang hadir bisa konsolidasikan untuk satu Indonsia, mari 'door to door', militan. Mari kita menangkan Solo dan Indonesia," kata dia.

Melihat para peserta Flashmob yang datang, Erick mengatakan, menjadi bukti bahwa masyarakat semakin optimistis melihat masa depan Indonesia.

"Tentu masyarakat tidak mau Indonesia pecah. Banyak negara pecah akhirnya mundur, seperti Suriah dan Yugoslavia," kata Erick Thohir.

Sementara itu, disinggung mengenai politik identitas, Erick mengatakan, Presiden Joko Widodo telah memberikan dorongan dan bantuan untuk masyarakat tanpa melihat latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan.

"Seperti bunga kredit UKM hanya tujuh persen, bunga kredit Bank Mikro Nelayan hanya tiga persen. Fasilitas ini mayoritas umat yang dapat. Selain itu, program dana desa sudah tersalurkan dengan baik," kata dia.

Menurut Erick, upaya tersebut dilakukan sebagai pertanggungjawaban pemerintah untuk mengatasi kesenjangan sosial. (KOMPAS.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved