Opini Pos Kupang

Politik Ekologi di Kota Sampah

Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok disusul Filipina, Vietnam

Politik Ekologi di Kota Sampah
POS KUPANG/EUGINIUS MO'A
ilustrasi 

Oleh Dr. Marianus Mantovanny Tapung
Ketua LP2M STIKes St. Paulus Ruteng

POS-KUPANG.COM - Satu permasalahan kental yang men-downgrade lingkungan hidup Indonesia adalah sampah. Sekitar 55-60% permasalahan memburuknya kualitas lingkungan alam dan lingkungan sosial justru muncul dari bejibunnya sampah di berbagai belahan nusantara.

Besarnya volume sampah, tentu tidak pernah terlepas dari masalah gaya hidup (life style) yang instan dan tingkat konsumsi yang tinggi dari penduduknya. Masyarakat Indonesia sudah terjebak pada hegemoni konsumeristik-pragmatis.

Masyarakat, baik perkotaan maupun pedesaan, bahkan sudah terjebak pada pola-pola konsumsi untuk memenuhi kebutuhan yang keliru (false needs) dan bukan memenuhi kebutuhan real (real needs).

Domain keinginan menjadi determinan dibandingkan dengan domain kebutuhan. Tak terkontrolnya gaya konsumsi dan pemakaian barang-barang fabrikatif, tentu berkontribusi pada semakin banyaknya produksi sampah di lingkungan rumah tangga maupun di masyarakat.

Punggungnya Dielus-elus Seorang Ibu, Begini Reaksi Presiden Jokowi

Usianya 20 Tahun, 5 Pose Anaknya Anang Hermansyah Bikin Pangling. Intip Yuk

BERITA POPULER Drakor Encounter Keluarga Mahasiswa Unwira Tolak Autopsi & Bripda Puput Resmi Mundur

Lebih dari itu, penggunaan wadah berunsur plastik dan anasir lain yang sulit diurai, saat berbelanja di pasar atau mall, menjadi segmen perilaku deviatif terbesar dalam menambah ekskalasi sampah di Indonesia.

Hasil riset Jenna R. Jambeck, dkk (www.sciencemag.org 12/02/2015) mengungkapkan, Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Menurut LSM Riset Greeneration yang 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun (Kompas, 23/01/2016).

Sementara riset terbaru Sustainable Waste Indonesia (SWI), dari 65 juta ton sampah yang dihasilkan di Indonesia tiap hari, sekitar 15 juta ton sangat mengotori, berikut menganggu ekosistem dan lingkungan alam sosial. Jenis sampah yang paling banyak dihasilkan adalah organik (60%), plastik (14%), kertas (9%), metal (4,3%), kaca, kayu dan bahan lainnya (12,7%).

Lembaga riset ini menemukan fakta, sebanyak 24% sampah di Indonesia belum dikelola secara baik; 7 % didaur ulang dan 69 % berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (CNN Indonesia, Rabu 25/04/2018). Sementara data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK-2018) menyebut, 48% sampah muncul dari sektor rumah tangga, pasar tradisional sebesar 24%, dan jalan 7%.

Untuk sementara, hampir semua wilayah di Indonesia, sampah menjadi persoalan pelik dan rumit. Karena itu, butuh perhatian dan penanganan yang serius dari semua pihak agar tidak larut dalam mengganggu keamanan hidup manusia (human security), keamanan lingkungan hidup (environmental security), dan keamanan sosial (social security) (Rivai Ras, 2018).

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved