Berita Cerpen

Cerpen Petrus Nandi : Kenangan di Pondok Teduh Kakek Tadeus

Kami berdua, aku dan kakek Tadeus duduk di emperan pondok kecil miliknya. Saat itu aku masih kelas dua SMP.

Cerpen Petrus Nandi : Kenangan di Pondok Teduh Kakek Tadeus
ils
Kakek 

MASIH terngiang dalam ingatanku. Suatu senja yang begitu teduh dengan sinar mentari yang sedikit manja manampar kulit kami.

Tepatnya jam setengah empat sore, saat aku selesai membopong karung-karung berisi padi bersama kakek di sawah. Kami berdua, aku dan kakek Tadeus duduk di emperan pondok kecil miliknya. Saat itu aku masih kelas dua SMP.

Seperti biasanya saat aku selesai membantu kakek membereskan padi sehabis pengirikan, kakek menempatkan waktu sedikitnya lima menit untuk mengajarkanku banyak hal tentang hidup.

Ada Apa Sampai Walikota Kupang Berkata Ini Seperti Mujizat ?

Kala itu, suasananya cukup sepi. Hanya beberapa ekor burung pipit yang berani berdesis seakan menggerakkan tangan kakek
Tadeus untuk meraih katapel kecilnya lalu membidik dan menembak satu atau dua dari mereka yang mengganggu padi-padi yang belum dipanen di penghujung timur sawah.

Juga bunyi deru air terjun yang mengalir di dua aliran sungai di sebelah utara dan selatan sawah sedikit memberi kesan bahwa dunia kala itu tidak hanya menjadi milik kami berdua.

Aku dan kakek Tadeus baru saja selesai membereskan padi-padi yang telah dipanen dan menempatkan mereka di dalam pondok. Setelah selesai membereskan padi-padi, kakek perlahan membawaku pada pemahaman yang sesungguhnya tentang hidup. Sambil menyeruput kopi manis buatanku, mulailah ia berbicara.

"Ketahuilah nak, hidup itu merupakan sebuah misteri, yang tidak akan pernah memberimu kabar tentang kapan engkau merasa bahagia atau sedih, tentang kapan engkau harus berbuat ini atau itu agar engkau dapat membahagiakan dirimu dan sesamamu. Hidup tidak pernah sudi menjadi sebuah cerita kuno yang dapat kau abaikan, sebab ia hanya mau menjadi setumpuk persoalan yang harus kau pecahkan. Ya, hidup adalah mati. Dan ia memacumu untuk membuatnya menjadi lebih hidup dan dengan demikian, engkaupun akan hidup."

Jadikan Anakoli Sebagai Desa Wisata Unggulan di Nagekeo, Ini yang Dilakukan TPID Wolowae

Kurang lebih demikian penggalan petuah yang pernah melonjak dari bibirnya yang kaku. Masih cukup jelas terekam dalam ruang ingatku.

Saat itu musim panen. Seperti biasanya saat musim panen tiba, selepas pulang sekolah aku selalu menyempatkan diri membantu kakek Tadeus di sawah, memotong padi atau mengangkat kumpulan padi yang sudah dipotong dan menyimpannya di pondok.

Setelah selesai bekerja, kakek selalu memberiku nasihat-nasihat yang menyejukkan jiwa. Banyak pertanyaan yang aku lontarkan dengan bahasaku yang sederhana, dan sebanyak itu pula ia memberi jawaban yang sangat bijak dan enak didengar.

Halaman
1234
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved