Opini Pos Kupang

Potensi Energi Terbarukan di Nusa Tenggara Timur Sangat Kaya. Inilah Datanya

Target ini dibuat berdasarkan pada fakta pencapaian Kementerian ESDM yang dapat menaikkan rasio elektrifikasi nasional

Potensi Energi Terbarukan di Nusa Tenggara Timur  Sangat Kaya. Inilah Datanya
POS KUPANG/JOHN TAENA
Pembangkit listrik tenaga angin di Dusun Tanarara, Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Minggu (19/3/2017) 

Oleh Linda Natalia So'langi
Stasiun Klimatologi Kupang, BMKG

POS-KUPANG.COM - Pemerataan pada sektor energi merupakan perwujudan dari keadilan sosial. Tidak mengherankan jika pemerintah melalui Kementerian ESDM menargetkan rasio elektrifikasi nasional (perbandingkan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan jumlah total penduduk dalam suatu wilayah) mencapai 99 % tahun 2019.

Target ini dibuat berdasarkan pada fakta pencapaian Kementerian ESDM yang dapat menaikkan rasio elektrifikasi nasional di akhir tahun 2017 mencapai angka 95,35%.

Dari banyak daerah di Indonesia yang perlu menjadi perhatian adalah Provinsi NTT yang rasio elektrifikasinya berada pada urutan paling rendah yaitu 59,85% pada Desember 2017 (www.esdm.go.id)

Usai Disidang, LL Dosen Selingkuh Beri Pengakuan Mengejutkan Soal Kasusnya Minta Maaf Berkali-kali

BERITA POPULER: Hadiah Istimewa Jennie BLACKPINK Untuk Kai EXO Duet Jet Tempur & Pesona Jungkook BTS

Selfina Dicekal di Bandara El Tari! Begini Suasana Pertemuan Lanjutan DPRD NTT dan Nakertrans TT -

Hingga saat ini data rata-rata rasio elektrifikasi nasional saat ini sudah mencapai 97,13 persen, namun rasio elektrifikasi NTT masih sebesar 60,82 persen atau masih di bawah rata-rata rasio elektrifikasi nasional (Kompas.com-30/08/2018).

Hingga September 2018 tercatat sebanyak 871 desa di NTT belum mendapatkan akses listrik (www.harnas.co-08/10/2018)

Ada baiknya jika pemerintah dalam mengejar target elektrifikasi di Provinsi NTT tidak serta merta hanya mengandalkan sumber dari tambang batu bara. Hal ini sejalan dengan target pemerintah dalam Paris Climate Change Agreement.

Indonesia bersama negara-negara di seluruh dunia telah sepakat untuk terlibat dalam mempertahankan kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 C dari angka sebelum masa Revolusi Industri dan mencari solusi untuk membatasi kenaikannya hingga setidaknya 1,5 C karena memahami bahwa pembatasan ini akan secara signifikan mengurangi risiko dan dampak dari perubahan iklim.

Presiden RI dalam penyampaian Intended Nationally Determined Contribution (Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional) menargetkan penurunan emisi GRK (Gas Rumah Kaca) pada tahun 2030 sebesar 29% dengan upaya sendiri, dan 41% dengan bantuan internasional (www.kemlu.go.id).

Salah satu sektor utama yang berkontribusi besar dalam upaya penurunan emisi GRK ialah sektor energi. Indonesia menargetkan penggunaan energi terbarukan sebesar 23% di tahun 2025 dan setidaknya 31% di tahun 2050 dan pada waktu yang bersama penggunaan batubara diminimalisasi sampai 30% di 2025 (ditjenppi.menlhk.go.id).

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved