Berita Kesehatan

Inovasi Mencegah Penyakit Stroke Oleh: Fransiska Novita Sari, S.Kep1 dan Sukihananto

STROKE merupakan silent killer atau pembunuh berdarah dingin yang dapat menyerang siapa saja, kapan saja.

Inovasi Mencegah Penyakit Stroke  Oleh: Fransiska Novita Sari, S.Kep1 dan Sukihananto
ils
Terapi stroke 

STROKE merupakan silent killer atau pembunuh berdarah dingin yang dapat menyerang siapa saja, kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Penyakit stroke menyerang otak sehingga aliran darah dan oksigen yang mengalir seketika berhenti dan dapat berisiko menyebabkan kematian sel-sel otak.

Kerusakan atau kematian sel-sel otak tersebut dapat menyebabkan seseorang mengalami kecacatan bahkan berisiko meninggal dunia. Berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Daerah (Riskesdas) tahun 2018, salah satu penyakit tidak menular (PTM) mengalami kenaikan prevalensi yaitu stroke.

Hasil Riskesdas 2013 memaparkan prevalensi stroke pada laki-laki sebesar 7,1% dan perempuan 6,8% sedangkan pada hasil Riskesdas 2018 pada laki-laki sebanyak 11% dan untuk perempuan 10,9%. Hal ini perlu mendapatkan perhatian penting bagi kita semua untuk mencegah dan mendeteksi stroke.

Alvin Lie Sayangkan Kenaikan Harga Tiket Pesawat Dijadikan Komoditas Politik

Cara cepat mendeteksi apakah seseorang mengalami serangan stroke dengan cara FAST. FAST merupakan suatu singkatan dari Face (wajah), Arm (tangan atau lengan), Speech (bicara) dan Time (waktu). Pertama, face (wajah) yaitu akan terjadi perubahan wajah menjadi tidak simetris pada seseorang saat diminta untuk tersenyum.

Kedua, arm (tangan atau lengan) ditemukan adanya perbedaaan kekuatan otot antara kedua tangan atau lengan dan kedua kaki dengan cara diangkat ke atas. Ketiga, speech (bicara) apakah ada kesulitan berbicara dan tampak pelo.Terakhir yaitu time (waktu), apabila kita menemukan 3 tanda dan gejala tersebut maka segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis dan keperawatan.

Penanganan stroke selama di rumah sakit akan dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Tanda dan gejala stroke yang terjadi tidak dapat secara langsung pulih selama dirawat di rumah sakit karena proses pemulihan kondisi setiap orang berbeda-beda tergantung daerah otak yang mengalami kerusakan.

Pesona Jungkook BTS Meski Tanpa Make Up, Wajah Imutnya Bisa Bikin Kamu Susah Tidur!

Sebelum pulang ke rumah, pasien dan keluarga akan diberikan edukasi untuk merawat pasien post-stroke agar proses rehabilitasi pasien dapat berkelanjutan. Tahap rehabilitasi ini sangat penting karena dapat mengurangi angka kecacatan pasien post-stroke dan mencegah terjadinya stroke berulang.

Salah satu inovasi di bidang kesehatan untuk membantu pasien, keluarga dan care-giver di rumah dalam proses perawatan pasien dengan post-stroke yaitu dengan menggunakan tele-rehabilitation.

Tele-rehabilitation adalah suatu aplikasi layanan pemantauan kesehatan di rumah dengan menggunakan teknologi berbasis informasi dan komunikasi untuk memantau pasien di rumah. Data perkembangan status kesehatan pasien akan dikirimkan ke petugas kesehatan profesional seperti dokter, perawat, fisioterapis, terapis bicara dan terafis okupasional.

Tolak Ajakan Makan Bersama, Surni Dilempar Handphone Hingga Meregang Nyawa di Tangan Pacarnya

Keluarga dapat mengirimkan data pasien melalui telepon, gambar dan video. Tujuan utama tele-rehabilitation yaitu menjembatani proses asuhan kesehatan yang sudah dilakukan di rumah sakit hingga ke rumah dapat tetap dilakukan sehingga mengurangi risiko terjadinya kecacatan dan kejadian stroke berulang.

Tele-rehabilitation tetap memperhatikan prinsip efisien biaya, waktu dan tenaga. Selain itu, program yang disiapkan sangat bervariasi sehingga pasien yang akan melakukan rehabilitasi tidak mudah bosan dan motivasi untuk latihan terapi meningkat.

Dikabarkan Pacaran, Ini yang Dilakukan Jennie BLACKPINK Saat Kai EXO Berulang Tahun

Tele-rehabilitation sudah diaplikasikan di beberapa negara dan menunjukkan keuntungan serta dampak positif dalam penggunaannya. Pelaksanaan tele-rehabilitation di Indonesia belum terealisasi karena membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak.

Hal ini menjadi tantangan bagi penyedia layanan kesehatan khususnya keperawatan komunitas untuk mengkoordinir dan melaksanakan asuhan keperawatan di keluarga dan komunitas agar tetap komprehensif.  (*)

* Fransiska Novita Sari, S.Kep1 adalah mahasiswa Magister Keperawatan Komunitas. Sukihanato adalah dosen UI.

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved