Berita Cerpen

Cerpen Tommy Duang: Perempuan dari Masa Lalu

"PUKUL 18.30, di tempat biasa. Saya rindu." Ketika pesan singkat itu masuk, jam dinding menunjukkan pukul 05.00 dan aku terbangun.

Cerpen Tommy Duang: Perempuan dari Masa Lalu
ils
Perempuan dari Masa Lalu 

"PUKUL 18.30, di tempat biasa. Saya rindu." Ketika pesan singkat itu masuk, jam dinding menunjukkan pukul 05.00 dan aku terbangun. Pesan singkat dari nomor ponsel yang tidak asing. Seorang perempuan dari masa lalu.

Sore ketika pertama kali kami bertemu, hujan mengguyur deras. Aku ingat, itu hari-hari terakhir di bulan Desember. Lagu Natal menggema dari setiap rumah dan di mana-mana terdapat pohon cemara buatan dengan bintang-bintangnya yang indah.
Hari sudah mulai gelap dan kami berdua terjebak hujan di taman kota. Tidak ada orang lain lagi di taman. Hanya kami berdua, bertiga dengan penjaga taman.

"Sendirian?" Tanyaku.
Dia menoleh, lalu tersenyum. Manis. Saya juga tersenyum kemudian duduk di sampingnya. Dia bergeser sedikit menjauh, menjaga jarak.
"Cuaca ini cukup buruk dan menjengkelkan. Sudah hampir satu jam, hujan terus."
"Iya, tidak tahu kapan berhentinya."
"Tapi asyik juga, hujan menjelang Natal dan akhir tahun."
"Iya."
"Suka warna biru?" Saya mencoba mencairkan suasana.
"Hmm, sepertinya iya. Kenapa tahu?"
"Baju biru, tas biru dan senyum itu serasi sekali."
Dia tersenyum. Tipis tapi manis.
"Tahu apa istimewanya warna biru?"
"Tidak."
"Biru itu selalu teduh."

Kakek Benediktus Sani Kena Tipu Ratusan Juta, Taspen Cabang Kupang Bantah Miliki Produk Taspen Asa

"Ahahaha." Dia tertawa renyah. Hujan mengguyur deras. Kami berbagi sebuah bangku kayu di teras pos jaga. Lampu-lampu di rumah-rumah toko satu persatu dinyalakan. Di sana sini terdengar lagu-lagu Natal.
"Ipang." Kuulurkan tangan kanan sambil melemparkan senyum. Dia menyambut uluran tanganku dengan hangat. Sebuah bulan sabit hinggap sesenti di bawah hidungnya yang mancung.
"Fatimah."
"Fatimah yang selalu berseri."
"Ah ada-ada saja."
"Itu nama putri nabi."
"Muslim?"
"Bukan." Saya menyangkal. "Saya Katolik. Saya suka belajar tentang ilmu-ilmu Islam. Belajar tentang Nabi Muhammad. Beliau menarik."
Lalu dia ber-Oh.
"Tapi muslimah, kan?" Saya balik bertanya.
"Bukan. Saya juga Katolik."
"Tapi nama Fatimah?"
"Ini hanya soal nama. Dan nama itu tidak bisa dieksklusifkan menjadi milik agama tertentu. Ayah ibuku kawin campur. Ayah Katolik, ibu Islam. Saya ikut agama ayah."
"Oh."
Hari sudah mulai malam ketika hujan reda. Dia pamit pulang duluan dan saya mengiringi kepergiannya dengan satu kali anggukkan kepala dan satu kalimat berisi harapan untuk bertemu lagi. Dia bilang, dia sering berada di taman ini pada hari Sabtu sore dan jika ingin bertemu datang saja ke taman pada salah satu hari itu.
Sore Sabtu berikutnya saya datang ke taman. Dan dia ada di sana, di bawah pohon beringin di tengah taman. Saya menghampirinya, mengucapkan selamat sore dan memulai obrolan.

Oknum Mahasiswi Ini Mengaku Menjadi Mucikari Prostitusi Online Hanya Sekadar Iseng- iseng

Dia berusia dua puluh satu tahun. Menarik, energik dan komunikatif. Matanya indah, senyumnya teduh. Dia cantik dengan kulit sawo matangnya yang eksotis. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya menunjukkan bahwa selain memiliki kecantikan yang kasat mata, ia juga mempunyai inner beauty di kedalaman hatinya.
Setelah pertemuan hari itu, kami semakin sering bertemu di Sabtu sore, Sabtu sore berikutnya. Kemudian kami bertukaran nomor telepon, malam harinya kami kadang berteleponan sampai berjam-jam, chatting di WA atau saling mengomentari foto di facebook.
Pada pertemuan yang ketujuh, saya mengatakan bahwa saya jatuh cinta padanya dan memintanya menjadi kekasih. Saya masih ingat sore itu, sore Sabtu terakhir di Januari yang segar, kami memulai sesuatu yang baru dalam kisah kami.
Dia membuka hatinya untukku dan bersedia menerimaku sebagai seorang kekasih. Kami berpacaran.
Kami menjalani hubungan seperti pasangan kekasih lainnya. Malam mingguan, makan berdua di resto pinggir pantai, jalan-jalan, main game, upload foto-foto dan unggah status di media sosial, telepon berjam-jam, saling ungkapkan rindu dan berciuman.

Anak-anak Mission Kids Unjuk Kebolehan ! Syukuran Pelayanan 2018 Menyongsong Pelayanan 2019

Kami saling mencintai dengan begitu rupa. Hari-hari yang kami lalui penuh warna. Satu hal yang menarik, semuanya serba seimbang. Canda tawa dan air mata. Bahagia dan sakit hati. Sedih dan gembira. Luka dan disembuhkan. Pertengkaran dan pelukan perdamaian. Sepanjang satu tahun hubungan kami, semuanya telah kami lalui.
Kami saling mencintai dengan begitu rupa. Hari-hari yang kami lalui penuh dengan mimpi dan rencana-rencana. Tentang pesta penikahan. Malam pertama. Bulan madu. Luas rumah. Bunga di taman. Motif sofa. Ukuran tempat tidur. Hingga nama anak pertama. Semua itu sudah kami mimpikan berdua.
Kami saling mencintai dengan begitu rupa. Hingga pada akhirnya cinta itulah yang harus memisahkan kami. Kami berpisah di tahun kedua hubungan asmara kami. Saya masih ingat malam itu, hujan mengguyur deras. Kami bertengkar hebat. Sebegitu hebatnya sampai masing-masing kami tak mampu menahan amarah.
Dengan api kemarahan yang berkobar-kobar, saya mengusirnya dari rumah hati yang sudah kami bangun bersama. Malam itu dia menangis. Menangis sampai kehabisan air mata. Kemudian dia pergi. Pergi dengan sumpah untuk tidak pernah kembali.
Penyesalan selalu datang terlambat. Beribu permohonan maaf kulayangkan. Beribu penolakan yang kuterima. Semuanya menjadi sia-sia.
Saya menyerah dan merelakannya pergi. Sampai akhirnya ia berumah di hati seorang laki-laki lain. Laki-laki yang bergebu-gebu mencintainya.
Selama lima tahun berikutnya kami tidak saling kontak. Sampai pagi ini, ketika jam dinding menunjukkan pukul 05.00 WITA, dia mengirimiku sebuah pesan singkat: "Pukul 18.30, di tempat biasa. Saya rindu." Ketika pesan singkat itu masuk, telepon genggamku bergetar, aku terbangun. Isteriku juga terbangun.
"Ada apa sayang?"
"Alarm."
"Jam berapa sekarang?"
"Jam lima."
Ia beringsut-isut bangun, mengecup keningku lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Saya meraih handphone yang tadi sempat kusisipkan di bawah bantal, membaca ulang pesan itu lalu mengirimkan balasannya.
"Ada apa?"
"Datang saja. Penting."
"Oke. Sampai bertemu sebentar sore."
Hari itu saya bekerja seperti biasa. Saya seorang guru. Sejak dua tahun lalu saya mengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas di kota ini. Sekolah kami menerapkan full day school. Sebenarnya saya kurang setuju sengan sistem ini. Selain mengurangi waktu anak-anak bersama orang tua dan lingkungan luar sekolah, sekolah sepanjang hari memberikan beban tambahan pada guru dengan berada sepanjang hari di sekolah.
Namun saya bukanlah siapa-siapa untuk melancarkan proses terhadap sebuah sistem. Di tengah kenyataan meningkatnya pengangguran dan terbuka lebarnya pintu bagi tenaga kerja asing, mendapat pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah ini sudah merupakan sebuah pencapaian hebat.
Pukul 05. 25 saya tiba di taman dan dia sudah berada di sana, di bawah pohon beringin di tengah taman.
"Selamat sore."
"Sore."
"Saya tidak terlambat kan?"
"Iya."
"Kamu apa kabar?" Tanyaku.
"Semuanya baik-baik saja. Kamu?"
"Sama. Sekarang kerja di mana?"
"Saya mengajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama di kampung mama. Setelah perpisahan kita saya memfokuskan diri pada kuliah dan akhirnya selesai tepat waktu. Lalu bekerja. Saya dengar kamu sudah menikah?"
"Iya. Dua tahun lalu."
Dia terdiam. Hatiku dibombardir rasa bersalah yang aneh. Keheningan ini begitu mutlak. Di sudut taman, sepasang suami-isteri sedang mengawasi anak mereka bermain. Seorang pemuda dengan sebatang rokok menyala di selah-selah jarinya sedang menyendiri. Sekelompok mahasiswa sedang berdiskusi tepat di sebuah bangku panjang tepat dua meter di depan kami.
Banyak hal berseliweran di kepalaku. Saya tidak bisa menguraikannya satu per satu. Keheningan itu begitu menyiksa. Saya memutuskan untuk membiarkan keheningan itu bertahan sedikit lebih lama. Dia butuh waktu untuk berpikir.
Lampu-lampu taman mulai dinyalakan. Hari sudah mulai malam. Keheningan kami semakin panjang.
"Terima kasih sudah datang." Katanya sambil tersenyum getir.
"Iya, sama-sama. Oh ya, boleh saya tanya?"
"Iya ."
"Ada apa sebenarnya ini?"
"Tidak. Saya hanya rindu. Itu saja." Dia masih seperti dulu. Jujur. Apa adanya. Tidak bertele-tele. Saya hanya diam. Tidak tahu mau bereaksi macam apa. Sekali lagi, dia berhasil membekukanku.
"Kamu masih ingat hujan yang mengguyur taman saat pertama kali kita bertemu?" Dia bertanya, spontan.
"Tidak."
"Oh ya?"
"Tapi saya ingat semua hujan yang mengguyur kota ini sejak engkau pergi."
"Ahahahaha." Dia tertawa renyah. "Kamu tidak berubah. Masih seperti dulu. Pandai menggoda."
Saya tersenyum tipis. Kalau saya boleh jujur, saya belum mengerti dengan semua ini. Seorang mantan kekasih yang hilang sejak lima tahun lalu, tiba-tiba mengirimiku pesan, meminta untuk bertemu, kemudian mengungkapkan rindu. Apa yang terjadi sepanjang hari ini cukup membingungkanku. Akan tetapi kuputuskan untuk menyimpan semua kebingungan itu dalam hati.
"Sudah malam." Katanya mengagetkanku. "Saya pamit pulang. Jika ingin bertemu, datanglah ke sini setiap hari Sabtu sore. Saya akan selalu ada di sini."
Kami berdua sama-sama berdiri. Taman mulai ramai. Banyak orang ingin bermalam Minggu di sini. Kebanyakan orang datang dengan pasangannya masing-masing. Taman ini menjadi tempat terbaik untuk bermalam Minggu bersama kekasih.
Saya menjabat tangannya, mengucapkan selamat malam dan pesan untuk berhati-hati di jalan. Dia menyambut uluran tanganku, tersenyum dan bilang, "Kamu juga pulang. Isterimu sedang menunggumu pulang." Kemudian dia pergi dan saya melambaikan tangan.
Saya tidak sempat memikirkan semua keanehan ini karena harus pulang rumah. Seharian saya tidak memberi kabar ke rumah rumah. Pasti isteri saya khwatir.
Dan benar. Ketika saya tiba di rumah, dia sudah menunggu saya dengan wajah penuh kecemasan.
"Kenapa baru pulang?"
Saya memberinya satu kecupan di kening, kemudian mencoba berbisik sehalus mungkin. "Tadi bertemu teman lama di taman kota. Keasykan cerita jadinya pulang malam."
"Oh ya sudah baca koran hari ini?"
"Ada berita apa memangnya?"
"Itu loh Fatimah mantan pacarmu itu."
"Ada apa dengan Fatimah?"
"Ha? Engkau belum tahu apa yang terjadi?"
"Memangnya ada apa?"
"Benaran belum tahu?"
"Iya benar, saya belum tahu."
"Fatimah meninggal."
"Maksudmu?"
"Masih ingat kan, peristiwa dua hari lalu? Pesawat terbang yang jatuh di laut."
"Iya."
"Salah satu penumpangnya, mantan pacarmu itu loh."
Sepenuhnya tidak percaya, saya menyambar koran yang dari tadi tergeletak di atas meja. Di situ tertera nama-nama korban lengkap dengan foto mereka. Ada foto Fatimah di sana. Fatimah Fajarwati, guru Sekolah Menengah Pertama, single. Seorang perempuan dewasa dengan mata indah dan secuil senyum teduh. Dia masih seperti dulu. Cantik dengan kulit sawo matangnya yang eksotis.
Kedua lututku lemas. Pertahananku runtuh, ambruk tak sadarkan diri. (*)
(Tommy Duang lahir di Flores, 26 Januari 1995. Mahasiswa semester V STFK Ledalero. Bergiat di Komunitas Arung Sastra Ledalero, dan anggota Teater Aletheia Seminari Tinggi Santu Paulus Ledalero).

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved