Berita NTT

RSUD WZ Johannes Kupang Wacanakan Pembentukan UPT Penanganan Limbah Medis

RSUD Prof. W. Z Johannes Kupang tengah mewacanakan pembentukan Unit Pelayanan Teknis (UPT) untuk mengelola limbah medis

RSUD WZ Johannes Kupang Wacanakan Pembentukan UPT Penanganan Limbah Medis
POS-KUPANG.COM/GECIO VIANA
Gedung RSUD Prof. W. Z Johannes Kupang. Gambar diabadikan pada Jumat (11/1/2019) sore. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Wakil Direktur RSUD Prof. W. Z Johannes Kupang, dr. Aleta D. Pian mengatakan, untuk menangani limbah medis pihaknya tengah mewacanakan untuk membentuk Unit Pelayanan Teknis (UPT) sehingga dapat mengelola limbah medis yang dihasilkan oleh rumah sakit dan pusat kesehatan lainnya.

Hal itu disampaikannya seusai rapat bersama dengan pihak Bappeda NTT, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTT dan tim akselerasi pembangunan NTT di Aula Bappeda Provinsi NTT pada Jumat (11/1/2019) sore.

"Selama ini berjalan (penanganan limbah medis) cuman mau percepatan supaya bisa semua yang ada dapat dibakar secara keseluruhan sambil mewacanakan membangun satu badan yang bisa mengelola limbah medis. Dan bukan saja RSUD WZ Johannes, tapi semua puskesmas dan tempat praktek yang menghasilkan limbah medis," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga tengah berusaha untuk mencari jalan keluar untuk menyediakan insinerator guna menangani limbah medis yang masuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Diakuinya, RSUD Prof. W. Z Johannes sebagai salah satu pusat kesehatan di Provinsi NTT menghasilkan 50 - 100 ton limbah medis setiap harinya.

VIDEO: Tumpukan Limbah B3 di RSU Prof. WZ Johannes Kupang

BREAKING NEWS: Polisi Tangkap Pelaku Curanmor di Kota Bajawa

Lisa BLACKPINK Dibully, Begini Reaksi Bambam, Janjikan Belikan Banyak Makanan Enak

Dia menjelaskan, selama ini pihaknya melakukan kerja sama dengan Rumah Sakit Katolik Carrolus Borromeus (RSCB) Kupang yang memiliki insinerator guna menanggulangi limbah medis.

Sebelumnya, kata dr. Aleta, pihaknya melakukan kerja sama dengan PT Semen Kupang. Kerja sama ini tidak lagi berjalan karena belum adanya regulasi ketat yang mengatur.

"Kami ada usaha untuk mengolah limbah kami yang tertumpuk karena insenator kita ada, cuman tidak memenuhi syarat untuk membakar sampah medis sehingga kita bekerjasama dengan RS Katolik Carrolus Borromeus (RSCB) Kupang," ujarnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan, limbah medis atau istilahnya limbah B3 yang dihasilkan rumah sakit diantaranya jarum suntik, limbah kemoterapi, sisa-sisa botol yang dipakai untuk mengobati pasien kanker, limbah kanker atau limbah fixer.

Limbah tersebut merupakan limbah yang berbahaya dan sangat infeksius bagi manusia bila dihirup. Jika pembakarannya tidak sempurna, maka asapanya bisa membuat masyarakat terkontaminasi.

"Tapi limbah kemoterapi lebih berbahaya lagi, ketika kita terkontaminasi, maka sel-sel kita akan rusak. Itu karena bersifat mutagenik karsinogenik artinya bisa mematikan sel-sel," ungkapnya.

"Kita kan simpan dalam kantong dan tidak dibuang begitu saja. Kalau dibuang sembarangan itu yang berbahaya," katanya. (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved