Berita Kota Kupang Terkini

Fauziah Senang Tidak Dimarahi Guru Lagi

yang memperjuangan UU Perlindungan Guru yang sampai sekarang macet di DPR. UU perlindungan guru seperti jangan sampai guru cubit anak, orangtua lapor

Fauziah Senang Tidak Dimarahi Guru Lagi
Pos Kupang.com/Yeni Racmawati
Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore, Plt Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kota Kupang, Elly Wairata, melepas burung merpati, Kamis (10/1/2019). 

Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Yeni Rachmawati

POS-KUPANG. COM | KUPANG -- Siswa SD Inpres Naikoten 1, Sri Bintang Fauziah mewakil para siswa menyampaikan testimony langsung dihadapan Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore, pejabat, para guru dan para orangtua.

Fauziah mengatakan dulu bila tidak mengerjakan PR, Guru suka marah. Tapi sekarang guru tidak memarahi lagi tetapi memberikan arahan positif yaitu mengerjakan kembali PR kami di bengkel ramah anak setelah jam istirahat atau pulang sekolah.

"Di sekolah kami juga diterapkan membawa bekal yang diperiksa oleh dokter kecil. Di sekolah kami juga ada kantin ramah anak dimana kantin tersebut menyediakan makanan sesuai arahan sekolah," tuturnya.
Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore, mengatakan sekolah ramah anak adalah suatu program yang luar biasa dilakukan oleh Dinas Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk mengangkat talenta-talenta dari anak.

"Adik Fauziah bilang sudah sekarang sudah berubah kalau tidak kerja PR, tidak apa-apa. Kalau dulu, tidak kerja PR pasti kapala babonteng. Ada bengkel ramah anak kalau pulang guru ajar anak kerja PR, tuturnya.

Kata Jefri, banyak hal yang baru dirasakan di era moderen seperti ini. Perubahan globalisasi sangat banyak yang membawa sesuatu yang baru. Tetapi karena perubahan globalisasi terdapat sisi negatif karena anak-anak auka melawan dan guru-guru tidak dihargai.

Maka dari itu, ia berharap sekolah ini tetap mengatur disiplin dan tata krama yang tetap menghormati gurunya.

"Saya satu-satunya orang yang memperjuangan UU Perlindungan Guru yang sampai sekarang macet di DPR. UU perlindungan guru itu seperti jangan sampai guru cubit anak, orangtua lapor polisi. Karena anak-anak harus diatur disiplinnya.

Memang tidak boleh berikan kekerasan fisik tapi harus dihukum untuk lebih disiplin. Perlindungan guru itu penting dalam taraf-taraf tertentu," tuturnya.

Oleh karena itu, kata Jefri, peluncuran ini adalah suatu langkah maju yang dibuat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kota Kupang, sehingga bisa diterapkan di sekolah-sekolah lainnya.

"Bukan saja ramah anak, tapi juga berbagai aspek. Saya senang ada tempat-tempat cuci tangan anak-anak. Saya bangga di sekolah ini sudah ada tempat cuci tangan. Cuci tangan itu penting untuk menjaga kesehatan," tuturnya.

Kata Jefri menjadi sekolah ramah anak tidaklah mudah karena perlu ada anggaran dan dedikasi sungguh-sungguh.

Ia meminta agar fasilitas yang ada di Sekolah Ramah Anak untuk lebih banyak dipehatikan oleh kementerian.

Peluncuran ini ditandai penandatangan prasasti, Penandatangan Komitmen Bersama Pendidik Komite Sekolah dan Peserta Didik SD Inpres Naikoten 1 Kota Kupang untuk Mengimplementasikan Pengembangan Sekolah Ramah Anak dalam Mendukung kota Kupang Provinsi NTT Menjadi Kota Layak Anak dan pelepasan sepasang buru merpati di Jalan Nanga Jamal No. 2 Naikoten 1. (*)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved