Berita Kabupaten Lembata Terkini

Ajakan tak Dihiraukan Warga, FP2L Gagal Gelar Unjukrasa di Kantor Bupati Lembata

Forum Peduli Pembangunan Lembata (FP2L) gagal menggelar unjuk rasa di Kantor Bupati Lembata, karena tidak mendapat apresiasi masyarakat

Ajakan tak Dihiraukan Warga, FP2L Gagal Gelar Unjukrasa di Kantor Bupati Lembata
POS-KUPANG.COM/Frans Krowin
Aleks Making (kanan) dari FP2L saat hendak menyampaikan aspirasinya dalam dialog dengan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, Kamis (10/1/2019). 

Forum Peduli Pembangunan Lembata (FP2L) gagal menggelar unjuk rasa di Kantor Bupati Lembata, karena tidak mendapat apresiasi masyarakat

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Forum Peduli Pembangunan Lembata (FP2L) gagal menggelar unjuk rasa di Kantor Bupati Lembata, Kamis (10/1/2019). Meski gagal berdemonstrasi namun tiga orang pengunjuk rasa itu tetap berdialog dengan Bupati Lembata, Eliaser Tentji Sunur.

Untuk aksi unjuk rasa tersebut, mulai Rabu (9/1/2019) malam, FP2L coba mengumpulkan massa dengan mengajak warga Kota Lewoleba dan sekitarnya untuk ikut dalam aksi damai tersebut. Namun ajakan itu rupanya tak diapresiasi oleh warga, sehingga pada Kamis (10/1/2019), aksi tersebut hanya dilakukan tiga orang saja. Tiga pendemo itu dibawah kendali Aleks Murin.

Disaksikan POS-KUPANG.COM, saat mobil pikap bergerak dari titik star di Taman Kota Lewoleba sekitar pukul 10.00 Wita menuju Kantor Bupati Lembata, di dalam kendaraan itu hanya terlihat tiga pendemo itu.

Hadapi Debat Perdana, Prabowo-Sandiaga Minta Saran dan Masukan SBY

Sepanjang jalan yang dilalui tak ada warga yang ikut bergabung hingga mereka tiba di Kantor Bupati. Sepanjang jalan yang dilalui, mobil pendemo itu dikawal kendaraan polisi lalulintas.

Ketiga pendemo itu memasuki halaman kantor bupati, terlihat aparat polisi pamong praja sudah siaga di depan kantor tersebut. Puluhan Satpol PP itu di-back up oleh puluhan anggota Polres Lembata yang dipimpin oleh AKP Marthin Arjon. Kasat Lantas, AKP Amrin juga turun ke lapangan mengawal pendemo hingga titik yang dituju.

Perwakilan Masyarakat Sipil Beri Dukungan dan Minta KPK Tetap Konsisten Memberantas Korupsi

Setiba di Kantor Bupati, Aleks Cs hendak menggelar aksinya. Namun aksi tersebut gagal dilakukan karena alat pengeras suara tak bisa digunakan. Penyebabnya, adalah mesin genset yang dibawa itu tidak dapat digunakan karena mengalami gangguan teknis.

Sopir pick up sudah berusaha memperbaikinya tapi tidak berhasil. Melihat suasana yang demikian, anggota Polres Lembata bersama Kasat Pol PP Kabupaten Lembata, Kanis Making lantas bernegosiasi agar Aleks Murin Cs tak perlu menggelar demo tetapi langsung menemui Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur. Apalagi sejak pukul 09.00 Wita, Bupati Sunur telah menunggu para pendemo di ruang kerjanya.

Negosiasi sesaat itu rupanya berhasil, sehingga tak lama berselang, Aleks Cs turun dari mobil pick up dan langsung dikawal aparat menuju ruang pertemuan Bupati Lembata di lantai II kantor tersebut. Sejurus kemudian, dialog pun dilaksanakan dipandu Penjabat Sekda Lembata, Anthanasius Aur Amuntoda.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata, Apol Mayan, Kepala Badan Keabangpol Silvester Samun juga turut mendampingi Bupati Sunur dalam dialog tersebut. Hadir pula Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kelautan dan Perikanan (DKP) Lembata, Mahmud Rempe dan Kabid Bina Marga, Anton Kohun mewakili Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPRP) Lembata, Paskalis Tapobali.

Saat dialog itu, Aleks Murin menyampaikan aspirasi dengan menyoroti beberapa hal, yakni pertama, pembangunan kolam apung di Pulau Siput, berikutnya menolak pembangunan rumah jabatan baru dan ketiga soal jembatan di kali Waima yang rusak diterjang banjir besar.

"Untuk jembatan itu ibarat kita membuang uang Rp 1,6 miliar di kali Waima. Sebab setelah dibangun, jembatan itu malah rusak diterjang banjir sehingga tidk bisa digunakan warga sesuai tujuan pembangunannya. Ini namanya kita buang-buang uang. Mungkin lebih baik kita gunakan uang itu untuk hal yang lain," ujar Aleks.

Ia juga mempertanyakan proses pembangunan jembatan itu mulai dari perencanaan, pengawasan hingga pada proyek itu rampung dibangun. Menurut dia, bila jembatan itu direncanakan dengan baik, mungkin hasilnya tidak seperti sekarang, yakni jembatan rusak dan praktis tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved