Editorial Pos Kupang

Perburuan Liar di Taman Nasional Komodo

Polisi juga menyita dua buah senjata api rakitan laras panjang, delapan amunisi, sembilan ekor rusa mati, satu kepala kerbau

Perburuan Liar di Taman Nasional Komodo
Istimewa
Foto ini beredar di Labuan Bajo. Diduga puluhan rusa yang diangkut itu hasil perburuan liar di Pulau Komodo 

POS-KUPANG.COM - Akhir Desember 2018, polisi menangkap seorang warga Nusa Tenggara Barat (NTB) berinisial N yang sedang memuat 100 ekor rusa dan empat ekor kerbau di Pantai So Toro Wamba, Desa Poja, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, NTB.

Polisi juga menyita dua buah senjata api rakitan laras panjang, delapan amunisi, sembilan ekor rusa mati, satu kepala kerbau dan satu unit kapal kayu sebagai barang bukti. Kasus perburuan liar rusa dan kerbau di Pulau Komodo bukan kasus baru. Pada tahun 2017 sempat viral foto kendaraan bak terbuka yang sedang membawa banyak rusa mati yang diduga hasil perburuan liar di Pulau Komodo.

Beredarnya foto tersebut memancing kemarahan pengelola TN Komodo. Bahkan mereka sempat tidak percaya bahkan membantah usa mati tersebut merupakan hasil perburuan liar di TN Komodo. Alasannya, Taman Nasional Komodo sering melakukan patroli tapi tidak pernah menemukan orang sedang berburu.

Ramalan Zodiak Kamis 3 Januari 2019, Scorpio Melihat Baru Percaya, Zodiak Lain?

ARMY Wajib Nonton! BTS Run Season 3 Bakal Tayang Hari ini di Channel V, Catat Waktunya!

Menteri Sri Mulyani Beberkan Cara Kementerian Keuangan Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Tahun 2019

Setahun setelah beredarnya foto tersebut, terjadilah penangkapan warga berinisial N yang sedang memuat rusa-rusa mati di Pantai So Toro Wamba, Desa Poja, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima. Penangkapan dilakukan berdasarkan informasi dari warga sekitar tentang aktivitas pemuatan rusa tersebut. Menurut warga bangkai rusa tersebut merupakan hasil perburuan liar di Pulau Komodo.

Kita masih menunggu kelanjutan proses hukum terhadap N. Namun peristiwa penangkapan tersebut menjadi gambaran tentang adanya perburuan liar di Pulau Komodo, di mana berbagai macam satwa dilindungi untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan makanan bagi Komodo.

Pertanyaan, bagaimana mungkin perburuan liar terjadi sementara pihak pengelola Taman Nasional Komodo senantiasa melakukan patroli? Mengapa mungkin senjata laras panjang beserta amunisi bisa dimiliki warga biasa? Bukankah senjata hanya boleh dimiliki dan dipegang oleh aparat keamanan? Ada apa?

Intinya kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan kawasan konservasi di mana segala macam satwa di dalamnya dilindungi dan tidak diperkenankan untuk diburu dan dibunuh dengan cara apa pun.

Selain untuk menjaga kelestarian lingkungan setempat, keberadaan satwa seperti rusa merupakan sumber bahan makanan bagi keberlangsungan hidup Komodo. Bayangkan kalau populasi satwa tersebut berkurang bahkan punah, dari mana lagi Komodo bisa mendapatkan makanannya. Bukankah Komodo juga bisa punah.

Itu yang tidak boleh terjadi. Komodo sebagai satwa langka yang sudah terbukti menarik kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru dunia hingga menjadi salah satu keajaiban dunia (New 7 Wonders) harus dilindungi.

Itu artinya, pihak yang dipercayakan mengelola kawasan ini tidak boleh main-main, baik dalam hal konservasi maupun pengamanan kawasan. Pihak pengelola harus punya protap khusus manakala menemukan oknum yang melakukan perburuan liar di kawasan ini, dari mana pun asal-usulnya. Pihak pengelola tidak boleh terkesan main mata dengan para pemburu liar hanya karena ada hubungan ini itu. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved