Parodi Situasi

Sajak Akhir Tahun

Salah satu mafia yang dilakukan adalah atur skor, atur siapa menang siapa kalah, atur bayar ini itu suka-suka kuasa.

Sajak Akhir Tahun
ilustrasi

Oleh Maria Matildis Banda

POS-KUPANG.COM - Kasus sepak bola melanda tanah air, tepat pada akhir tahun. Bayangkan saja! Orang-orang yang pegang kebijakan bola bundar tersungkur di kaki KPK.

Salah satu mafia yang dilakukan adalah atur skor, atur siapa menang siapa kalah, atur bayar ini itu suka-suka kuasa. Benar-benar menyedihkan! Berita yang membuatnya menulis puisi akhir tahun berikut ini.

Kutulis sajak ini untuk sepak bola...
Temali gawang sobek dalam sorak gempita
Dimana keringat dan air mata memberi tanda
Ketika tendangan menghantam dada dan kata
Kutulis sajak ini untuk sepak bola...

***
Sejumlah orang menulis tentang KPK dan OTT proyek air minum untuk bencana alam. Sejumlah orang menulis tsunami dan berbagai beban penderitaan serta pertanyaan mengapa bencana ini harus terjadi.

Ada pula yang mengadaptasi syair indahnya Ebiet G. Ade tentang Berita Kepada Kawan. Juga ada yang mengutip bait-bait Andai Kutahu Kapan Tiba Ajalku yang dilantunkan Ungu. Akan tetapi dia sendiri yang menulis sajak tentang sepak bola.

"Aku ini pencinta sepak bola!" demikian Nona Mia menghapus air mata.
"Kamu orang apa?" tanya Rara.
"Orang NTT! Memang kenapa?"

"Pantas! Orang NTT kalau soal bola biasanya mati-matian bela. Tidak peduli kalah atau menang yang penting bela dulu. Tetapi saya rasa kamu tidak perlu menangis bodoh begitu hanya karena sepak bola!"

"Betul Nona Mia!" sambung Jaki. "Bodoh sekali menangis untuk kasus sepak bola ya. Yang menjadi mafia mereka, yang penipu mereka, yang makan uang mereka, kenapa kamu yang menangis?"

"Tulis saja puisi tentang bencana alam!" sambung Rara. "Jangan sepak bola!"

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved