Opini Pos Kupang

Ucapan Selamat Natal Soal Kemanusiaan, Bukan Perkara Dogma

Ucapan selamat adalah sebuah fenomen antropologis yang umum dan universal. Di berbagai masyarakat dan

Ucapan Selamat Natal Soal Kemanusiaan, Bukan Perkara Dogma
ROSIANNA SILALAHI
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Pater Markus Solo Kewuta, SVD (kanan) di Vatikan belum lama ini. 

Oleh P. Markus Solo, SVD
Anggota Dewan Kepausan, tinggal di Roma Italia

POS-KUPANG.COM - "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" (Roma 12:15) adalah salah satu realisasi ajaran Kasih di dalam agama Kristiani yang ditulis oleh Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Ajaran kasih dengan dua dimensi yang saling berkaitan erat, yakni Kasih akan Allah dan kasih akan sesama manusia seperti diri sendiri, merupakan jantung ajaran Yesus Kristus dan menjadi tolok ukur setiap keputusan magisterial dan perilaku moral Gereja.

Berkaitan dengan ini, rasul Yohanes di dalam suratnya yang pertama di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru menulis demikian: ,Jikalau seorang berkata: ,Aku mengasihi Allah`, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya" (1Yoh 4:20-21).

Kata-kata Paulus dan Yohanes di atas kedengaran sederhana tetapi tidak sesimpel itu. Keduanya berbicara tentang solidaritas dan sambung rasa antar sesama umat beragama tanpa perbedaan.

Di dalam konteks kebhinekaan sebuah masyarakat, kata-kata di atas memiliki nilai fundamental dan merupakan sebuah nasihat emas, atau paling kurang menginspirasi, menuju satu masyarakat majemuk yang kompak, rukun, damai dan bahagia.

Pastor Markus Solo Kewuta,  SVD foto bersama dengan ikon sepakbola Italia, Alessandro Del Piero dalam pembukaan Global Conference on Faith & Sport di Vatikan, Rabu (5/10/2016)
Pastor Markus Solo Kewuta, SVD foto bersama dengan ikon sepakbola Italia, Alessandro Del Piero dalam pembukaan Global Conference on Faith & Sport di Vatikan, Rabu (5/10/2016) (ISTIMEWA)

Akan terasa aneh kalau seorang tetangga meninggal dunia, lalu pada saat yang sama tetangga sebelah rumah menggelar sebuah pesta musik dan berbuat seolah-olah tidak ada apa-apa di sekitarnya. Atau ketika seorang sahabat merayakan ulang tahun, sahabat yang lain bermasa bodoh karena alasan tertentu. Atau ketika tetangga atau seorang sahabat lulus sekolah, diwisuda, mendapat sebuah penghargaan, atau sebuah job bergengsi dan orang beramai-ramai memberikan selamat, malah sahabat atau tetangga yang lain melarikan diri ke persembunyian hingga peristiwa itu berlalu. Atau seorang tetangga menang loteri dan bersukaria. Tetangga yang lain malah menangis tersedu-sedu sampai memutuskan relasi.

Bukankah dengan bersikap dan bertingkahlaku demikian, relasi persahabatan dan ketetanggaan akan semakin renggang dan ada rasa ,jauh" di antara mereka?

Lumrah dan universal

Ucapan selamat adalah sebuah fenomen antropologis yang umum dan universal. Di berbagai masyarakat dan budaya ada kebiasaan mengucapkan selamat hingga saling membagi hadiah. Entah kapan lahir ucapan selamat kepada orang yang sedang berbahagia dan turut berduka bersama mereka yang sedang berduka, tidak ada data valid. Tetapi jelasnya ini sebuah kebiasaan tua.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved