Berita Cerpen

Penantianku Abadi Cerpen Erwin Pitang

Siang itu aku memilih untuk sendiri bersandar pada kebisuan sambil menanti angin sepoi yang mungkin ingin mampir menemani kebosananku.

Penantianku Abadi Cerpen Erwin Pitang
ils
Penantianku Abadi 

SIANG itu...

Terik mentari terasa sedang menyengat jagat. Memanggang semua insan yang mengadu nasib dalam setiap detak waktu, baik di kala suka maupun duka. Waktu terasa lelah tuk menemaniku dan ia seakan harus membopongku dalam kesendirian.

Siang itu aku memilih untuk sendiri bersandar pada kebisuan sambil menanti angin sepoi yang mungkin ingin mampir menemani kebosananku. Entah mengapa, aku tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Imajinasiku pun seakan lebur dicairi oleh penatnya mentari. Pupus. Khayalan demi khayalan temani sepiku. Sesaat ku mengumbar senyum dalam kesendirianku.

Ngeri! Ini 12 Tsunami Terdasyat Sepanjang Sejarah Manusia, Salah Satunya Di Indonesia

Seperti sedang berada dalam guratan kisah dengan gadis yang mendekap erat pada peluk hangatnya dikala senja kembali berlindung pada sejuknya balutan awan. Mengapa aku harus menghiasi hari ini dengan banyak berkhayal sampai berhalusinasi?

Mengapa setiap imajinasiku tergores oleh cerita bolong tanpa makna? Apakah aku telah dilumur asmara? Tetapi pada siapa? Lamunanku semakin terbang dan melambung sampai langit ketujuh. Ingin kunodai lagi lembaran-lembaran kosong dalam buku diariku, namun jemariku tak kuasa menggenggam pena.

Tanganku seakan dililit duri kemalasan dan kebosanan siang itu.
Aku memilih untuk diam. Napasku seakan terasa sesak pada rongga dada. Kucoba merangkai taktik untuk keluar dari derita hari ini. Namun, jangkauan pikiranku ini tak mampu menggoda ketenangan.

Aku merasakan badai kemalasan terus menyerbuku dan semakin dahsyat menghantamku. Ingin aku pejamkan mata ini namun kehampaan siang ini sangat tidak bersahabat. Hanya khayal dan khayal yang kumiliki tuk menemani sepiku. Seakan sepi membawaku pada suasana yang khusuk yang tiada akhir.
Sepertinya aku kini berada dalam alam kekosongan.

Kumerasakan sesuatu yang aneh. Panas yang sebelumnya sempat memilukan seakan merobek sukma, kini dirampas oleh kabut hitam nyaris transparan.

Ini Penjelasan Kasat Reskrim Polres Ngada !  Penemuan Mayat di Malanuza

Lama ku terdiam dalam kesendirianku. Tak lama berselang angin sepoi berganti taufan kencang lalu butir-butir rinai jatuh bertalu membasahi rumput liar di pekarangan rumah. Langit biru sekejap menghilang diluruh awan hitam dari pojok utara bumi.

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved