Berita Tamu Kita

Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM : Tanam Pohon Harus Menjadi Gaya Hidup

Lingkungan berkualitas tidak boleh berakhir sekarang, tetapi harus dirasakan anak dan cucu kita di masa mendatang.

Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM : Tanam Pohon Harus Menjadi Gaya Hidup
ist
Pater Yohanes Kristoforus Tara 

LINGKUNGAN yang berkualitas tidak boleh berakhir di jaman kita sekarang ini, tetapi harus dirasakan anak dan cucu kita di masa mendatang.

Ini pesan moral yang disampaikan seorang pahlawan lingkungan hidup yang bergumul dengan warga dan lingkungan di wilayah perbatasan NTT dan Timor Leste

Atas kepedulian tersebut, Pater Yohanes Kristoforus Tara, OFM, Pastor Paroki Laktutus, Kabupaten Belu, mendapat Kalpataru Pengabdi Lingkungan Hidup dari Pemerintah Kabupaten Belu tahun 2018 yang diserahkan Wakil Bupati Belu, JT Ose Luan, di Kantor Bank Sampah Ai' Kamelin, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu, Selasa (27/11/2018).

Jelang Natal Tebusan Barang Emas di Pegadaian Meningkat

Seperti apa gerakan yang dilakukan Pater Kristo dalam melestarikan lingkungan? Berikut wawancara Pos Kupang Teni M. Jenahas.

Profisiat Pater Kristo atas diterimanya Kalpataru Pengabdi Lingkungan Hidup dari Pemerintah Kabupaten Belu 2018. Bisa diceritakan kegiatan apa yang Anda lakukan dalam melestarikan lingkungan?
Baik. Saya bersama umat melakukan konservasi lahan terutama lahan-lahan kritis dan konservasi air dengan menanam pohon. Kami memberikan perhatian pada dua hal ini karena menurut saya sangat penting.
Kita mesti melihat setiap pohon itu sebagai pohon kehidupan. Dan pohon ini kita mesti melihat sampai ke air. Tanpa pohon, air tidak akan ada. Karena itu, dua hal penting ini diberikan perhatian dengan menanam pohon.

Jenis pohon apa saja yang ditanam dan dimana saja lokasinya?
Kami menanam macam-macam pohon, mulai pohon buah-buahan entah itu di kebun paroki atau di kebun umat. Kemudian, tanaman untuk konservasi lahan atau tanah sekaligus ekonomis seperti Mahoni, Johar, dan Sengon. Tanaman ini selain berfungsi konservasi lahan, juga dipakai sebagai pelindung kopi. Kami menanam kopi sekaligus untuk konservasi tanah tetapi juga berfungsi ekonomis.
Selain itu, kami menanam jambu air hutan. Mengapa jambu air hutan? Karena, selain konservasi tanah terutama di lahan rawan longsor, juga untuk konservasi air karena akarnya itu sangat bagus menyimpan air. Dimana ada pohon jambu air, disitu pasti ada air.

Puisi-Puisi Siswa SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan

Sejak kapan Anda melakukan Gerakan Menanam Pohon bersama masyarakat?
Kami memulai sejak tahun 2014. Sejak saya pindah dari Jakarta. Setelah saya melihat situasi dan kondisi masyarakat dan kondisi lingkungan sekitar. Pemberdayaan ekonomi tetap berjalan dengan melihat potensi-potensi lokal. Tetapi, tidak kalah penting adalah bagaimana mengolah lahan yang begitu banyak tidak terurus karena rawan longsor serta bagaimana mengatasi kesulitan air.
Oleh karena itu, kami mulai menyusun program bersama dengan umat. Untuk peningkatan ekonomi, kami fokus dengan menanam kopi sebagai potensi lokal. Kami juga melakukan konservasi lahan.
Kami menginvetarisir sumber air dan lahan rawan longsor. Ada beberapa lokasi percontohan yang kami tanam bermacam-macam pohon, yaitu di lahan paroki sekitar enam hektare, di daerah longsor tanam gamal dan jambu air. Kemudian untuk menjaga hutan, kami menanam kopi di bukit Laktutus sekitar 10 hektare. Jadi masyarakat menjaga kopi sekaligus menjaga hutan. Kegiatan itu dilakukan tahun lalu yang dihadiri Bapak Uskup Atambua dan Bupati Belu.

Selain Gerakan Menanam Pohon, hal apa lagi yang Anda lakukan?
Saya mengajak masyarakat untuk mengolah lahan yang masih dibiarkan begitu saja. Lahan itu digarap dan ditanami sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan juga untuk dijual.

Penantianku Abadi Cerpen Erwin Pitang

Apa yang memotivasi Anda sehingga Gerakan Menanam Pohon terus dilakukan?
Ada tiga hal yang memotivasi saya untuk melakukan gerakan tanam pohon. Pertama, kesadaran genesis. Sejak awal mula setiap pribadi diberi tanggung jawab untuk hidup bersama dengan makluk lain atau dalam istilah saya entitas-entitas yang lain. Kesadaran ini mesti sampai pada tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara lingkungkan hidup.
Kedua, kesadaran global. Semua orang di dunia menyadari bahwa dunia sedang mengalami suatu krisis lingkungan hidup atau krisis ekologi. Jika krisis ini dibiarkan terus, kita akan berhadapan dengan kerusakan masif lingkungan hidup. Kondisi ini akan berdampak pada keberlanjutan hidup, tidak hanya manusia tetapi juga makhluk-makhluk lainnya.
Kesadaran ini melahirkan sebuah tanggung jawab bagi saya, kelompok dan siapa saja untuk sama-sama dan terus menerus bekerja menjaga dan merawat lingkungan ini agar dunia atau alam tetap menjadi tempat yang nyaman bagi sebuah kehidupan.
Ketiga, kesadaran spritual. Kesadaran yang diberi mandat oleh Injil dan gereja bahwa alam ini tidak begitu saja diserahkan pada cara kerja ilmu pengetahuan dan teknologi yang cenderung merusak alam.
Gereja memiliki tanggung jawab besar demi menyelamatkan alam semesta. Kesadaran ini tidak terbatas pada satu agama tetapi semua agama untuk sama-sama membangun koalisi menjaga dan merawat lingkungan hidup.

Ngeri! Ini 12 Tsunami Terdasyat Sepanjang Sejarah Manusia, Salah Satunya Di Indonesia

Kabanyakan orang kurang peduli dengan lingkungan hidup. Bagimana pandangan Anda?
Kesadaran menjaga dan merawat lingkungan hidup masih sangat rendah. Orang tidak peduli dengan lingkungan hidup. Orang tidak peduli dengan pohon dan air. Padahal, semuanya adalah sumber kehidupan. Tanpa pohon dan tanpa sumber air tidak akan ada kehidupan.
Menurut saya, tanggung jawab gereja dan pemerintah yang paling berat adalah bagimana menganimasi terus-menerus, membangun kesadaran masyarakat untuk menjadikan lingkungan hidup ini sebagai bagian dari hidup, menjadi gaya hidup.
Tanam pohon itu harus menjadi gaya hidup. Menjaga sumber-sumber air itu harus menjadi gaya hidup. Bukan karena proyek. Yang terjadi selama ini, kalau tanam pohon itu proyek, konservasi sumber air itu proyek.
Justru karena mentalitas proyek inilah yang membuat kesadaran orang dalam menjaga lingkungan hidup rendah. Tetapi kalau itu menjadi suatu gerakan bersama yang muncul dari tanggung jawab bersama maka menjaga lingkungan itu akan menjadi gaya hidup.

Ini Penjelasan Kasat Reskrim Polres Ngada !  Penemuan Mayat di Malanuza

Halaman
12
Penulis: Teni Jenahas
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved