Dicky Senda Melukiskan NTT sebagai Gudang Pemikir dan Seniman

Menurut Dicky, NTT terlalu luas dan kaya. Menasional atau berjejaring ke luar itu perlu, tapi tidak kalah pentingnya masuk ke akar kita sendiri

Dicky Senda Melukiskan NTT sebagai Gudang Pemikir dan Seniman
Dicky Senda 

POS-KUPANG.COM - Sastrawan muda, Dicky Senda melukiskan NTT sebagai gudang pemikir, seniman dan budayawan. Sebagai generasi muda, dia senang sekali melihat regenerasi pemikir, seniman dan budayawan itu bertumbuh dengan baik.

Dicky melihat saat ini akses dan kesempatan lebih terbuka. Lewat media sosial misalnya, orang muda NTT mendapat ruang dan kesempatan belajar tanpa batas, memperkenalkan dirinya dan berjejaring dengan penulis dan seniman luar.

Walau demikian, kata Dicky, proses yang semakin mudah harus dibuktikan juga dengan konsistensi, keberpihakan dan identitas yang kuat. Artinya, persaingan itu akan selalu ada dan ketat. Belajar dari generasi sebelumnya itu perlu, tapi membentuk sendiri identitas kita sebagai seniman juga tidak kalah penting.

Harumkan Nama NTT, Begini Kisah Marion Jola, Felix K Nesi Hingga Dicky Senda Raih Sukses

Ramalan Zodiak Senin 17 Desember 2018, Pisces Waspadalah, Pengkhianatan dari Orang Terdekat

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

Menurut Dicky, NTT terlalu luas dan kaya. Menasional atau berjejaring ke luar itu perlu, tapi tidak kalah pentingnya masuk ke akar kita sendiri.

"Dikenal, dibaca, diapresiasi di kampung halaman sendiri. Artinya seniman atau penulis NTT juga dituntut untuk punya keberpihakan pada daerah yang ia wakili. Tulisan, misalnya, bisa jadi adalah alat untuk menyuarakan hal yang mungkin tidak pernah disuarakan. Jadi harapan saya kesempatan seperti ini, ketika sudah diberi panggung, hendaknya dipakai oleh para seniman muda NTT untuk bersuara," kata Dicky Senda, Sabtu (15/12/2018).

Mezra Pellondou kecewa karena di satu sisi ingin NTT dilirik oleh daerah lain. Tapi di sisi lain, orang NTT tidak menghargai dirinya sendiri. Ia memberikan contoh, untuk Duta Kelor NTT, mengapa harus memilih figur dari luar NTT.

"Apakah Slank pernah makan marungga atau jangan-jangan sonde (tidak) pernah lihat marungga. Wah, orang NTT tiap hari makan marungga, yang jadi duta kok Slank, kenapa bukan Marion Jola, Dicky Senda atau Felix Nesi," katanya.

Menurut Mezra, pemerintah harus mampu memberdayakan orang-orang hebat sebagai aset daerah. Jangan sampai mereka sangat dihargai dan diberi tempat di luar NTT, sedangkan di kandangnya sendiri tidak dihargai.

Karena itu, kata Mezra, anak-anak muda yang berhasil tidak mempersoalkan hadir atau tidaknya pemerintah, sebab karya-karya nyata mereka lebih kuat berbicara langsung pada masyarakat. Jadi dibutuhkan sensitivitas pemimpin daerah.

Berkaitan dengan literasi, dia mengatakan literasi tidak sekadar kemampuan balistung (baca, tulis, hitung), tapi literasi beriringan dengan wawasan berpikir, bertindak dan berkeputusan.

Halaman
12
Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved