Warga Pulau Sumba Umumnya Takut Lapor Polisi. Ternyata Ini Penyebabnya

Kawanan pencuri atau perampok tidak segan-segan menghabisi nyawa jika korban melakukan perlawanan.

Warga Pulau Sumba Umumnya Takut Lapor Polisi. Ternyata Ini Penyebabnya
ilustrasi

POS-KUPANG.COM, WAIKABUBAK - Warga yang menjadi korban pencurian mengaku takut menginformasikan atau melapor kepada pihak lain termasuk aparat keamanan meski mengalami atau mengetahui aksi pencurian dan perampokan ternak. Mereka tidak bisa berteriak minta tolong karena nyawa menjadi taruhannya.

Kawanan pencuri atau perampok tidak segan-segan menghabisi nyawa jika korban melakukan perlawanan. Khawatir akan keselamatannya sehingga para pemilik ternak hanya bisa pasrah.

"Siapa yang berani berteriak? Kalau leher sudah terhunus parang tajam, pelaku tinggal menggorok. Kami pasrah saja, yang penting selamat," ujar Anton (nama rekaan), korban pencurian, saat ditemui Senin (26/11/2018). Anton merupakan warga Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah. Dia mengaku kehilangan delapan ekor kerbau pada awal Maret 2017 lalu.

Ramalan Zodiak Hari Ini, Jumat 14 Desember 2018, Capricorn Tertekan, Pisces Rugi, Aries Beruntung

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

Bupati di Pulau Sumba Ini Setuju Polisi Culik Saja Para Pencuri Ternak

Dia menuturkan, kawanan pencuri berjumlah sekitar belasan orang masuk kampung sekitar pukul 01.00 Wita dini hari. Menurutnya, pencuri menyebar. Setiap rumah warga dijaga kawanan pencuri, ada yang berdiri siaga di pintu depan dan belakang serta jendela. Ada juga yang menginformasikan aksinya dan meminta pemilik rumah jangan keluar atau berteriak.

Anton mengatakan, seketika rumahnya dimasuki tiga orang pencuri. Salah seorang menghunuskan parang ke lehernya. Seorangnya masuk ke kamar anak-anak dan istrinya yang saat itu sedang tidur. Istri dan anak-anaknya sempat kaget terbangun. Pencuri lantas menyuruh istri dan anak-anaknya tidur lagi setelah menutup kepala dengan kain.

Seorang lainnya menjaga di pintu masuk. Perannya memberi aba-aba, kalau ternak sudah dilepas dari kandang. Bila aksinya selesai, kawanan pencuri langsung melarikan diri. Bersiul dan cahaya lampu senter menjadi tanda kawanan pencuri beraksi atau mengakhiri aksinya.

Meski banyak ternaknya dicuri, Anton tidak melapor polisi. Dia berusaha mencari sendiri hingga menemukan lima ekor kerbau berada di kawasan hutan perbatasan dengan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat.

Korban lainnya, Umbu Ranja Lakigela mengaku kehilangan empat ekor kerbau pada Agustus 2018 lalu. Dua kerbau yang dicuri miliknya, dua lainnya milik anggoa keluarganya.

Warga Kampung Paterulima, Desa Anakalang ini mengaku kerbau yang diikat di padang Waihawawang, Desa Dewa Jara, Kecamatan Katikutana, dicuri siang hari oleh kawanan pencuri.

Umbu Ranja kemudian melapor peristiwa itu ke kantor polisi. Dirinya dan polisi mencari kerbau yang dicuri tapi tidak ditemukan. Dia menduga kerbaunya dibawa ke wilayah Loli atau Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat. "Terus terang saja, saya sudah melupakanya. Saya menganggap kejadian itu, sama halnya membuang sial saja," katanya.

Umbu Ranja menyarankan pemerintah memberdayakan kawanan pencuri, di antaranya mengangkat mereka sebagai polisi desa. Tugas utamanya menjaga keamanan dan ketertiban desa.

Menurutnya, berdasarkan cerita sejumlah eks pencuri, mereka terpaksa mencuri karena tidak diperhatikan pemerintah.

"Pemerintah bahkan ikut mencap mereka sebagai orang nakal. Karena itu, mereka memutuskan tetap menjalankan aksinya. Kawanan pencuri mengaku siap menghentikan aksi apabila pemerintah mau memberi perhatian dengan melibatkan mereka dalam membangun Sumba Tengah," demikian Umbu Ranja. (pet)

Penulis: Petrus Piter
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved