Opini Pos Kupang

Demokrasi Dibajak Neo Kapitalis

Demokrasi mulai diperkenalkan oleh Bung Karno melalui demokrasi terpimpin. Lalu muncul demokrasi Pancasila era Soeharto.

Demokrasi Dibajak Neo Kapitalis
ilustrasi

Oleh: Boni Jebarus
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Penentuan penyelenggara negara diatur melalui proses demokrasi. Baik melalui pemilu, maupun mekanisme dan tata cara lainnya yang diatur oleh peraturan undang-undangan.

Misalnya voting atau musyawarah mufakat untuk memilih penyelenggara lembaga-lembaga negara. Inilah jalan yang dipilih. Jalan Demokrasi dengan berbagai model dan perilakunya.

Demokrasi mulai diperkenalkan oleh Bung Karno melalui demokrasi terpimpin. Lalu muncul demokrasi Pancasila era Soeharto. Kemudian era reformasi, wacana demokrasi mengalami dialektika yang tajam.

Pertarungan berbagai pendekatan dan praktik di negara modern memunculkan sistem demokrasi yang labil. Perubahan sistem terus dilakukan seiring diskursus elite dan tuntutan civil society.

Ramalan Zodiak Malam ini - Scorpio Pintar Sebagai Cambuk, Cancer Tak Pakai Logika dan Akal Sehat

Gaji PNS 2019 Naik, Mau Tahu Berapa Kenaikan Gajimu, Lihat Tabel Resmi dari Pemerintah

LINK LIVE STREAMING Penampilan BTS dan Wanna One di MAMA 2018 di Jepang, ARMY Wajib Nonton!

Pada aras perilaku dan praktik, baik elite maupun akar rumput setali tiga uang. Hedonis elite dan permisivisme akar rumput menciptakan pasar gelap politik modern yang mendewakan persaingan. Maka muncul distorsi demokrasi. Kebijakan datang dari pintu belakang.

Dan, lebih buruknya lagi, dalam senyap remang malam dua-tiga berkumpul atas nama elite, maka itu adalah keputusan. Gambaran fakta ini persis seperti tabiat burung hantu; demokrasi burung hantu.

Demokrasi terpimpin diperkenalkan Ir. Soekarno pada Pidato 5 Juli 1959 "bahwa demokrasi terpimpin bukanlah diktator, sentralistik, ataupun liberal, akan tetapi merupakan permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, bukan dengan perdebatan dan penyiasatan".

Dapat diartikan bahwa negara tidak memberikan keleluasaan penuh kepada rakyat, tetap diatur dan diarahkan-semi otoriter. Sepertinya Soekarno melihat gejala ambisi elite status quo dan rendahnya partisipasi rakyat.

Selain itu, Soekarno tidak percaya pada elite karena buruknya sistem parlementer pada saat itu. Sistem liberal diberlakukan pada negara baru merdeka adalah jebakan demokrasi, bisa instabilitas. Akhir kata, Soekarno dijatuhkan mahasiswa tahun 1966 dan tumbanglah demokrasi terpimpin.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved