Tamu Kita

Gestianus Sino : Duta Petani Muda Indonesia 2018

Pemilihan Duta Petani Muda Indonesia 2018 merupakan ajang inspirator muda pertanian untuk mendorong minat generasi muda.

Gestianus Sino : Duta Petani Muda Indonesia 2018
IST
Gestianus Sino 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Pemilihan Duta Petani Muda 2018 merupakan ajang inspirator muda pertanian yang bertujuan untuk mendorong peningkatan minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.

Kegiatan ini berupaya mendorong perubahan pola pikir bertani di kalangan anak muda, menjadikan petani sebagai pekerjaan yang keren dan menjanjikan.

Peserta dari Nusa Tenggara Timur, Gestianus Sino, SP, akhirnya terpilih sebagai Duta Petani Muda 2018, setelah menyisihkan utusan dari 33 provinsi lainnya dari seluruh Indonesia tanggal 26 November 2018 sampai dengan 1 Desember 2018 di Hotel Kosenda Jakarta.

Ini Penghargaan yang Diberikan Presiden Jokowi kepada 2 Budayawan dan 2 Sastrawan

Pemilihan Duta Petani Muda Indonesia diselenggarakan oleh Jaringan AgriProFocus Indonesia, yaitu Oxfam di Indonesia, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Kuncup Padang Ilalang (KAIL), dan workout.id

Wartawati Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu, mewawancarai Gesty di sela-sela kesibukan mengaduk tanah dan menyeruput kopi Arabika Bajawa di kebunnya yang asri di Matani, Senin (3/12/2018).

Profisiat, Anda tepilih sebagai Duta Petani Muda Indonesia 2018. Bagaimana perasaan Anda?
Tentu saja saya kaget dan tidak pernah bermimpi menjadi Duta Petani Muda Indonesia 2018. Ini mungkin efek dari kesungguhan yang saya lakukan. Pekerjaan itu kalau dilakukan secara sungguh-sungguh, bisa memberi dampak ke diri, lingkungan, bahkan untuk negara juga. Walaupun demikian saya menyadari bahwa saya memiliki banyak kekurangan dan utusan dari provinsi lain juga memiliki jejak usaha dan perjuangan yang jauh lebih fenomenal. Apapun saya sadari bahwa ini berkat Tuhan di penghujung tahun. Kuncinya adalah terus belajar dari kekurangan kita dan kelebihan orang lain.

Bisakah Anda menjelaskan sedikit tahapan dan proses pemilihan?
Proses menuju pemilihan Duta Petani Muda Indonesia 2018 ini sudah sejak bulan Mei 2018. Pesertanya adalah para petani muda berprestasi dari seluruh Indonesia. Ada ratusan petani muda yang mendaftar dan ikut kompetisi ini, namun hanya 30-an orang yang memenuhi syarat. Setiap petani muda yang memenuhi syarat diminta membuat video berdurasi tiga menit yang memaparkan permasalah pertanian di Indonesia dan solusi yang ditawarkan, serta apa saja yang telah dilakukan. Video ini diunggah ke youtube dan video dengan vote tertinggi, otomatis menjadi salah satu peserta yang lolos bersama 9 peserta lainnya yang dipilih oleh panitia.
Dan, Puji Tuhan, video pendek saya memperoleh vote tertinggi dan itu berarti otomatis masuk 10 besar bersama sembilan finalis lain yang diseleksi oleh tim juri dan panitia. Setelah itu, panitia mengundang 10 finalis untuk ikut dalam ajang grandfinal pemilihan Duta Petani Indonesia 2018 dari tanggal 26 November sampai 1 Desember 2018.

Satgas TNI-Polri Temukan Jenazah Korban Pembantaian KKB di Nduga Papua, Kondisinya Menyedihkan

Apa saja latar belakang para peserta dan bidang usaha yang mereka geluti?
Dari segi prestasi maupun level pendidikan, peserta dari provinsi lain jauh lebih mentereng. Ada beberapa yang pendidikannya S2. Lainnya, rata-rata sarjana. Sedangkan dalam bidang usaha, setiap peserta punya spesifikasi masing-masing. Kalau saya fokus dengan pertanian organik yang ramah lingkungan. Peserta lainnya juga macam-macam. Ada yang bergelut dengan bawang, sorgum, madu, hidroponik, moringa atau kelor, susu sapi, holtikultura, dan sebagainya. Peserta dari NTT sebetulnya ada dua orang. Satunya lagi adalah seorang perempuan kreatif yang bergiat dengan usaha kelor/moringa.

Jurinya dari mana saja dan apa kriteria panitia dalam memilih Duta Petani?
Jurinya antara lain dari Kementerian Desa, Bank Indonesia, Oxfam Indonesia, dan praktisi pertanian. Ternyata setelah saya perhatikan, panitia tidak melihat dari aspek besar kecilnya skala usaha, tetapi inovasi-inovasi dan teknologi tepat guna yang dilakukan. Saya ini usahanya skala kecil, dengan luas lahan hanya kurang lebih 1000 meter persegi. Bayangkan saja, ada peserta yang memiliki lahan usaha ratusan hektar dan omset miliaran. Makanya saya terkejut ketika dimumkan sebagai pemenang.

Halaman
12
Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved