Berita Nasional Terkini

Cerita Pimpinan soal Alasan KPK Ajak Rohaniawan Cegah Korupsi

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif mengungkapkan, pihaknya juga menggandeng rohaniawan, seperti ustaz dan pendeta dalam pencegahan korupsi.

Cerita Pimpinan soal Alasan KPK Ajak Rohaniawan Cegah Korupsi
DYLAN APRIALDO RACHMAN/KOMPAS.com
Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M Syarif mengungkapkan, pihaknya juga menggandeng rohaniawan, seperti ustaz dan pendeta dalam pencegahan korupsi.

Di samping itu, KPK juga mengajak organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Pasalnya, kata Laode, KPK juga menemukan praktik korupsi dalam pengadaan barang atau jasa yang diperuntukkan untuk pengembangan kegiatan keagamaan. Bahkan, ada koruptor yang menggunakan sandi dari istilah-istilah keagamaan.

"Perlu juga kita catat, kalau (pengadaan) Al-Quran saja sudah dikorupsi, gimana coba? Uang haji dikorupsi. Jadi maksudnya seperti itu," kata Laode dalam sebuah diskusi di Taman Suropati, Jakarta, Minggu (9/12/2018).

Sandiaga Yakin Elektabilitas Pasangan Prabowo-Sandiaga akan Terus Meningkat

"Bahkan, ya mohon maaf saja, kalau biasanya gelar perkara di KPK, itu (pelaku) biasanya mereka pakai bahasa Arab, jago sekali bahasa Arabnya. Bahkan, dijadikan kode, berapa juz? 1 juz, 2 juz, itu (setiap 1 juz setara) Rp 1 miliar," lanjut Laode.

Laode juga menceritakan, ada orang yang korupsi padahal ia sudah ditinggal istri, sementara anak-anaknya telah memiliki pekerjaan serta kehidupan yang mapan.

Presiden Jokowi Senam Tera Bersama 20.000 Orang di Istana Bogor

Sehingga tak ada beban tanggungan keluarga yang tinggi. Baca juga: KPK Diharap Perkuat Pencegahan Korupsi di Sektor Konstruksi "Pas kita lihat pas diwawancarai, 'Pak, kan Bapak sudah tidak punya istri, terus anak sudah pada selesai, sudah kerja baik, terus buat apa uang seperti ini?' Terus jawabannya gini 'Ya kalau ada yang minta tolong ada gereja yang bocor kita kasih sumbangan'" cerita Laode.

Dari hal-hal tersebut, Laode melihat perilaku koruptor seringkali bertentangan dengan nilai ajaran keagamaan yang sudah mereka terima. "Jadi, enggak sinkron," katanya.

Dengan melibatkan para rohaniawan dan organisasi keagamaan, moralitas dari pihak target program pencegahan bisa semakin diperkuat. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved