Opini Pos Kupang

Manusia Jual Beli Manusia, Ulasan Menarik Anggota DPRD Provinsi NTT Anton Bele

Suatu istilah yang sangat merendahkan derajat kita manusia. Wajar kalau kiriman yang adalah manusia ini

Manusia Jual Beli Manusia, Ulasan Menarik Anggota DPRD Provinsi  NTT Anton Bele
Ilustrasi 

Oleh Anton Bele
Anggota DPRD Provinsi NTT 2014-2019

POS-KUPANG.COM - Dagang manusia itu jual beli manusia. Dagang barang, dagang hewan, biasa. Dagang manusia? Ini di luar dari biasa. Dagang manusia itu seperti jual beli binatang atau barang. Manusia jual beli manusia. Yang menjual, tega, yang dijual, rela. Gejala apa ini? Uang. Harga.

Diri manusia dihargai dengan uang, rupiah, ringgit dan dollar. Yang jual butuh, yang dijual juga butuh. Sama-sama butuh, dan uang jadi utama. Harga diri manusia cuma setumpuk uang. Sehat, sakit, mati, urusan belakang. Perkara dan penjara, pusing amat. Yang penting dapat uang. Uang di atas segala-galanya.

Seorang puteri, berusia tujuh tahun, bermain di padang dengan temannya. Tiba-tiba datang dua orang laki-laki berbadan kekar, menangkap mereka, ikat dengan rantai dan menjual kedua puteri itu di pasar tempat para hamba diperjualbelikan. Kedua puteri itu terpisah.

5 Zodiak ini Terkenal Mudah Bosan Saat Pacaran, Gemini Nomor Satu!

Jadi Drama Korea Pertama yang Tayang di Youtube, Ini 4 Fakta Drakor Top Management

Satu puteri yang bernasib sangat malang, dijual kepada seorang bangsawan yang sangat kejam. Isteri dan anak-anak bangsawan ini berlaku sangat kasar terhadap hamba cilik mereka. Anak kecil ini diiris kulitnya di punggung dan perut dan luka-luka itu dibiarkan bernanah lalu mengering sebagai cap di tubuhnya jadi tanda pengenal.

Ini terjadi di Sudan, Afrika, pada tahun 1876, 142 tahun lalu. Nama hamba puteri ini, Bakhita, artinya, Mujur. Nama ini diberi oleh kedua pria penculik karena tidak mengenal nama asli gadis cilik itu.

Kedua penculik menjual kedua anak perempuan yang malang itu kepada para makelar budak di pasar budak. Bayangkan, manusia ditangkap dan dijual seperti hewan. Itu dulu, terjadi di Afrika.

Puteri Bakhita dijual empat kali dari tangan ke tangan, akhirnya jatuh ke tangan seorang diplomat Italia. Keluarga diplomat Italia inilah yang membawa budak kecil ini ke Italia dan di Italia Bakhita mendapat kebebasan. Bakhita disekolahkan kemudian menjadi seorang Suster berkulit hitam pertama di Kota Schio.

Suster Bakhita menjadi anggota Serikat Suster Canossian. Di kota kecil Schio Suster Bakhita mendapat tugas mengasuh anak-anak miskin dan terlantar. Suster ini sangat ramah dan setia pada tugasnya sampai anak-anak dan orang tua mereka yang berkulit putih dan segenap warga Kota Schio sangat mengasihinya. Suster Bakhita meninggal pada tanggal 8 Februari tahun 1947 dalam usia 78 tahun.

Seluruh penduduk kota Shcio dan banyak orang di Italia menyatakan duka yang mendalam atas berpulangnya Suster kulit hitam yang alim ini. Karena begitu baik dan hidupnya begitu saleh, maka pada tanggal 1 Oktober 2000, sesudah 53 tahun meninggal dunia, Suster Bakhita digelar kudus dalam Gereja Katolik, dengan nama, Santa Josephine Bakhita.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved