Berita Cerpen

Cerpen Lian Kurniawan : Bidadari Malam

MALAM telah larut. Cahaya bulan dan bintang nampak suram, terhalau oleh kabut. Melki menghela napas panjang lalu beranjak masuk.

Cerpen Lian Kurniawan : Bidadari Malam
ils
Bidadari Malam

MALAM telah larut. Cahaya bulan dan bintang nampak suram, terhalau oleh kabut. Melki menghela napas panjang lalu beranjak masuk ke dalam kamar. Ia, lelaki pecinta malam itu, sedari tadi duduk menyendiri di beranda rumahnya. Menikmati sunyi dan semacam keangkeran kampung kecilnya itu kala malam.

Dalam sunyi, bak pertapa ulung, ia menimang-nimang tiap misteri kehidupannya sendiri. Sesekali ia merasakan suatu firasat yang mencemaskan. Ada semacam pertanda bahwa suatu hal teraneh dalam hidupnya bakal terjadi. Segera, dan malam itu juga!

Tetapi sebagai seorang yang rasional, ia mengelak semua keanehan yang secara tiba-tiba muncul dalam pikirannya itu. Toh, ia menyadari bahwa dalam sunyi pikiran sesiapa pun bakal menjadi sibuk oleh hiruk-pikuk kenangan, kekinian, dan harapan yang liar melintasi pikiran tanpa kendali.

Rayakan Ulang Tahun, Jin BTS Menulis Surat untuk ARMY dan Beri Santunan untuk Hewan Telantar

Maka keanehan itu baginya adalah keindahan dari sunyi itu sendiri. "Betapa hidup ini lucu dan seru!"gumamnya.

Melki lalu masuk ke dalam kamar. Sejenak iya merebahkan tubuh ke ranjang. Lalu bangkit dan menggapai sebuah novel yang hampir selesai ia baca. Tersisa beberapa halaman saja. Rasa penasaran akan ending dari cerita panjang novel tersebut membuatnya nekad menahan kantuk. Ia membakar rokok dan kembali fokus meresapi makna setiap kata yang ada.

Beberapa saat berselang, suara segerombolan anjing tetangga terdengar melolong. Keras, dalam irama yang kacau dan penuh gairah. Biasanya pertanda bahwa ada yang sedang lewat.
Tetapi siapa gerangan yang berani lewat selarut ini?

Hatinya berkecamuk. Menduga-duga. Ia terjebak dalam perang sengit antara rasionalisme yang belum lama ia akui dan kepercayaan akan adanya dunia gaib yang telah lama tertanam jauh di bawah alam bawah sadarnya. Megi, sang anjing peliharaanya kemudian ikut menggonggong. Iya sontak menduga bahwa pasti ada 'ata lako wie' (orang jalan malam,Red) yang sedang menanam guna-guna di seputaran rumahnya.

Tapi rasionalitasnya tak mau kalah. Ia lalu mengakui kemungkinan lain. Bahwa anjing-anjing itu sedang menggonggong warga yang hendak pergi memburu mobil di jalan raya sana untuk pergi ke kota. Sebab kampungnya belum bisa dimasuki kendaraan apapun. Kampung paling udik.

Tak Sangka Penampilan Ibu 3 Anak Ini Masih Langsing, Lihat Foto Terbaru Nia Ramadhani

Di sisi lain, ia ingin mengintip lewat jendela, hendak memastikan. Tetapi ada rasa takut yang seketika menjalari sekujur tubuhnya. Bulu kuduknya berdiri.
"Tok.......tok.....tok...!"
Melki tersentak. Berulang kali, pintu rumahnya diketok. Tapi ia belum menggubris. Matanya membelalak. Mendengar dengan saksama.
"Tok......tok.....tok...!"

Kali kesekian, ketukan pintu itu disusul suara seorang perempuan. Amat ayu dan asing baginya.
Melki lalu melepaskan novel dari tangannya, dan beranjak ke dapur hendak mengambil parang. Dengan sedemikian hati-hati ia merangkak, guna memastikan bahwa sang tamu tidak mendengar derap langkahnya. Dari dapur, suara ketukan pintu samar terdengar. Sekali lagi, dan disusul suara penuh harap bercampur rasa cemas.

Halaman
1234
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved