Opini Pos Kupang

Pos Kupang dan Pers Jaman Now

Konflik kepentingan sesungguhnya merupakan akibat dari adanya revolusi teknologi komunikasi yang terjadi secara masif.

Pos Kupang dan Pers Jaman Now
ilustrasi

Ada praktik komodifikasi dalam pers jaman now. Komodifikasi teks berita ini terjadi karena dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi politik. Komodifikasi teks berita adalah salah satu bentuk komodifikasi isi yang berupaya mengubah nilai berita menjadi nilai jual semata. Akibatnya fakta berita dapat dikonstruksi sedemikian hingga menghasilkan keuntungan secara ekonomis yang berlipat ganda.

Analisis wacana kritis atas berita pada media massa lokal NTT, berguna untuk mengetahui makna, relasi kuasa dan ideologi yang ada di balik teks berita korupsi.

Berita adalah hasil produksi dan konstruksi para pekerja media dalam hal ini adalah wartawan. Apakah berita-berita tersebut merupakan representasi realitas ataukah konstruksi realitas atas objek yang diberitakan?

Kognisi sosial adalah faktor yang turut mempengaruhi praktik pemberitaan pada media massa cetak lokal. Hampir semua wartawan di Provinsi NTT belum mendapatkan sertifikasi sebagai jurnalis profesional.

Hal ini tentu saja mempengaruhi kualitas pemberitaan. Selain itu, para wartawan yang dengan latar belakang ilmu yang berbeda, pengalaman yang terbatas dan sedikitnya pelatihan bagi wartawan di daerah maka bukan tidak mungkin mereka gampang terjebak dalam disorientasi pada kepentingan rakyat. Berita-berita yang diproduksi adalah berita-berita elitis dan komodikatif.

Tantangan pers jaman now adalah pers dapat terjebak untuk memilih cara instan dalam memproduksi berita. Lebih cepat dan gampang jika pers hanya melulu memilih elite sebagai sumber berita yang cenderung sebatas berita seremonial.

Akibatnya pers boleh jadi "jatuh" dalam ketidaksadaran memarginalkan kepentingan rakyat dalam praktik pemberitaan. Padahal pers adalah kekuatan dalam membangun demokratisasi.

Berita sebagai Komoditi

Realitas masyarakat NTT menjadi ironis karena terjadi di wilayah yang masyarakatnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah namun tingkat korupsinya tinggi. Kondisi ini menjadi konteks kehadiran teks berita yang fenomenal dan menjadi headline.

Namun apa yang diproduksi menjadi berita belum sepenuhnya mengakomodir kepentingan rakyat. Berita-berita yang dikonstruksi masih menjadi seperti komoditi yang dapat dijual untuk mendapatkan nilai tukar guna meraup keuntungan secara ekonomis. Selain itu berita-berita juga cenderung bersifat elitis karena lebih berorientasi pada kepentingan segelintir kaum elit di daerah. Hal ini pun dapat dicurigai sebagai upaya komodifikasi pada tataran subyek berita.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved