Opini Pos Kupang

Mengelola Bank Sama dengan Mengelola Risiko

Karena lembaga perbankan adalah lembaga yang penuh risiko, maka diperlukan pemimpin yang beritegritas. Pandai saja, tidak pernah cukup

Mengelola Bank Sama dengan Mengelola Risiko
ilustrasi

Oleh N. Rengka Johanes
Pernah bekerja di Citibank NA Jakarta dan kini menjadi Direktur sebuah Bank Perkreditan Rakyat di Jakarta.

POS-KUPANG.COM - Tulisan ini saya awali dengan sebuah cerita kecil. Ketika menjelang akhir tahun lalu, saya ditelepon oleh seorang komisaris salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jakarta. Mereka mau mengundang saya untuk memberikan sedikit gambaran bagaimana strategi menurunkan NPL(Non Performing Loan). Katanya, NPL di bank mereka kian meninggi.

Si komisaris itu mengeluh pada saya, karena Direksi agak “ bandel “ dan tidak mengikuti saran-saran yang diberikan komisarisnya. Padahal SOP (Standard Operating Procedure) sudah ada, tetapi para direksi sering melakukan maunya sendiri dan kontrol sangat lemah.

Kebetulan komisaris itu mengajar pada salah satu universitas ternama di Indonesia. Beberapa hari kemudian saya pun memenuhi undangan mereka untuk memberikan presentasi dan sharing pengalaman.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 27 November 2018, Taurus Ambil Keputusan, Cancer Diserang Penyakit.

Baca: Jadi Drama Korea Pertama yang Tayang di Youtube, Ini 4 Fakta Drakor Top Management

Baca: Film BTS Burn The Stage: The Movie Menjadi Film Terlaris di Amerika

Berkaitan dengan cerita kecil di atas, sungguh menarik kalau kita membaca laporan survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga konsultan papan atas, Price Waterhouse Cooper (PWC), pada tahun 2017, tentang NPL (Non Performing Loan) pada beberapa negara termasuk Indonesia.

Dari laporan itu disebutkan bahwa untuk Bank Pemerintah dan Bank Pembangunan Daerah, masalah kredit (NPL) justru terjadi pada korporasi dan Usaha Kecil Menengah. Sebaliknya kualitas NPL yang baik malah ada pada consumer atau retail lending.

Sebetulnya bisa dimengerti, meski kontribusi NPL kredit korporasi cukup tinggi, tetapi pada sisi lain, kredit korporasi memberikan kontribusi laba yang tinggi untuk bank. Itulah sebabnya para bankir cenderung memilih memberikan kredit kepada korporasi atau lembaga ketimbang konsumen (consumer).

Namun perlu juga diwaspadai bahwa NPL rendah tidak selalu menunjukan sehat atau tidaknya sebuah bank. Itulah sebabnya Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membuat berbagai regulasi agar dipatuhi oleh para pengelola bank.

Contoh yang paling sederhana, kalau NPL kecil, tetapi laba juga kecil, padahal asset besar, maka perlu dipertanyakan lebih jauh efisiensi dari operasional bank tersebut. Itulah pentingnya ketika memilih sesorang untuk menduduki posisi strategis dalam sebuah bank, entah sebagai direksi atau komisaris wajib memahami hal-hal dasar seperti ini.

Produk perbankan entah itu deposito, tabungan dan kredit selalu memiliki resiko. Maka penguasaan manajemen risiko menjadi sangat mendesak. Penguasaan manajemen risiko di sini bukan sekadar menghafal aturan-aturan yang ditentukan oleh OJK, tetapi mengerti cara menghitung dan mengontrolnya.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved