Berita Internasional

Jutaan Orang di Tepi Kelaparan ! Peraih Nobel Serukan Diakhirinya Perang di Yaman

Yaman telah menghadapi blokade darat, laut dan udara, dan telah terjadi "pembantaian warga sipil" di pasar, kamp pengungsi, rumah sakit dan sekolah

Jutaan Orang di Tepi Kelaparan ! Peraih Nobel Serukan Diakhirinya Perang di Yaman
(REUTERS/Khaled Abdullah)
Pengungsi dari kota pelabuhan Laut Merah Hodeidah duduk di rumah keluarga penduduk dimana mereka tinggal di pinggiran Sanaa, Yaman, Selasa (10/7/2018). Foto diambil tanggal 10 Juli 2018. 

 POS KUPANG.COM -  Perang di Yaman harus diakhiri, dan Arab Saudi serta Uni Emirat Arab harus dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan yang mereka sebabkan, kata seorang Peraih Nobel Perdamaian Tawakkol Karman.

Di dalam satu artikel opini untuk The Washington Post, Tawakkol Karman --seorang wartawati Yaman-- menulis bahwa perang tersebut telah mengakibatkan kerusakan luas pada prasarana Yaman dan telah membuat jutaan orang berada di tepi kelaparan.

Baca: Tahun 2019 ! Wakapolda NTT Berencana Gelar Tinju se-NTT di Sumba Timur

Baca: DPRD NTT Pertanyakan Status Gunung Mutis, Masih Ada Perbedaan Penafsiran

"Mengapa Arab Saudi dan sekutu mereka menolak untuk mengizinkan pemerintah yang sah kembali ke wilayah yang sudah dibebaskan?" tulis Tawakkol, sebagaimana dikutip Kantor Berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam. "Mengapa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua negara paling kaya di dunia, membiarkan krisis kemanusiaan ini berlangsung terus?"

Sementara itu, Yaman telah menghadapi blokade darat, laut dan udara, dan telah terjadi "pembantaian warga sipil" di pasar, kamp pengungsi, rumah sakit dan sekolah.

"Jalan bagi diakhirinya perang sudah jelas. Pertama, Amerika Serikat dan negara lain harus menghentikan eksport senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE)," tulis Tawakkol.

Baik Dewan Keamanan PBB maupun pendukung Barat koalisi pimpinan Arab Saudi tak pernah mempertanyakan logika di balik konflik itu, kata wartawati tersebut.

Yaman tetap porak-poranda oleh kerusuhan sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah Al-Houthi merebut sebagian besar wilayah negeri itu, termasuk Ibu Kotanya, Sana`a.

Konflik itu meningkat pada 2015, ketika Arab Saudi dan sekutu Arab-Sunninya melancarkan operasi udara yang memporak-porandakan di Yaman dengan tujuan memutar-balikkan perolehan gerilyawan Al-Houthi.

Puluhan ribu orang --termasuk banyak warga sipil Yaman-- diduga telah tewas dalam konflik tersebut, yang telah membuat sebagian besar prasarana dasar di negeri itu menjadi puing.

PBB saat ini memperkirakan bahwa sebanyak 14 juta warga Yaman terancam kelaparan, dan dengan menggunakan data yang diberikan oleh PBB, kelompok hak asasi manusia Save the Children menyimpulkan bahwa 85.000 anak yang berusia di bawah lima tahun di Yaman telah meninggal akibat kelaparan.

Halaman
12
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved