Berita Puisi

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini

November adalah dedaunan yang pasrah, yang telah jatuh di sapu angin.Sebelum terjadi kemarin dan akan terjadi besok.

Ini Loh Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini
ils
Cerpen Menunggu Hadirnya Maaf 

Puisi-Puisi Roy Ndaing

Kalah Telak

Aku amat tersesat
Mengapa hatiku seperti ini?
Mimpi-mimpiku telah hilang
Pikiran yang membingungkan

Bunga-bunga telah layu
Namun warna mereka tetap ada dalam ingatanku
Bak istana pasir yang terhempas oleh ombak
Butirannya takkan hilang dari bibir pantai

Aku terpikat cantiknya
Aku terpesona seksinya
Aku terbuai asmara runduk layunya
Aku diperdaya bujuk rayunya

Aku tersesat
Jalanku sangat terang kemarin
Sekarang buram, gelap pekat
Rasaku hilang oleh rasanya
Harumku hilang oleh harumnya

Aku kalah
Kalah telak oleh bunga layu itu.
(Ledalero, 19/11/2017)

Bunga vs Kumbang

Bunga bau semerbak
Menelanjangi tubuhnya hendak memamerkan madunya
Namun kumbang tak mampu bertindak
Kumbang hanya mampu mencium bau
Tetapi enggan melihat
Apalagi menyentuh dan menikmatinya
Iri merasuki otak
Hati hancur bak tertabrak
Kumbang yang malang masi enggan mengepakan sayapnya...
(Krokowolon, 8 September 2018)

Puisi-Puisi Peter Ronaldo Thaal
November

November adalah dedaunan yang pasrah, yang telah jatuh di sapu angin.
Sebelum terjadi kemarin dan akan terjadi besok, pagi yang rapuh akan datang menyimpan belati dengan lembut di benak ini.
Kesepian tidak akan lari sebelum November ini pergi.
Hukum alam selalu tidak terkalahkan: "Daun yang bertunas di musim semi dialah pemenangnya".
Dan kepasrahan dedaunan tidak melahirkan belas kasihan yang berlarut-larut di musim ini.
Sebab November sudah menjadi raja untuk alam
(Penfui, November 2018)

Jarak Selalu Melepaskan

Jarak selalu melepaskan yang sudah-sudah, kalau
Kau ingin melihat matahari pagi.
Dan Jarak selalu melepaskan "yang ada" kalau matahari senja hampir tiba.
Harapan saat malam datang adalah melihat pagi.
Mimpi ini tidak akan bertuan sebelum jarak membawa kembali pagi yang diaambil.
Anggap saja jarak ini telah gugur bersama dengan dedaunan yang ditiup angin, lalu pergi seorang diri.
(Penfui, November 2018. Seminari Tinggi St.Mikhael Penfui-Kupang)

Puisi-Puisi Masan Kurman

Pahlawan Kawan Atau Lawan

Wahai para pahlawanku, kamilah generasi mudamu
Kamilah ujung tombak perjuangan kini
Di tangan kamilah setir nahkoda kami gerakan
Berjuang di antara himpitan karam dan gelombang
Namun, maafkan kami pahlawanku
Jika dengan tangan kami terkadang kami corengkan noda
Di atas perahu yang beroda
Kami habiskan masa muda untuk berfoya
Kami isi waktu kami dengan hal sia-sia
Di lubuk hati ini kami menangis
Ada dari kami yang menyalahi amanah
Dan semoga dari salah ini memberi hikmah
Menjadi mahasiswa yang kadang semena-mena
Berujar dan berlaku amoral dimana-mana
Kami memang menodai jerih generasi muda lain
Mereka begitu getol berjuang untuk maju
Sementara kami belum menyingsingkan baju
Mereka begitu gigih menyingkir dari kenistaan
Sementara kami masih dalam juang menghapus penderitaan
Kami ingin bergerak
Bergerak lebih maju
Dari sekadar menyingsingkan lengan baju
Menjadi "college student zaman now" berjiwa pahlawan
Semangat nasionalisme dan patriotisme
(Penulis adalah mahasiswa Institut STIAMI Jakarta)

Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved