Berita Cerpen

Cerpen Erwin Pitang: Menunggu Hadirnya Maaf

"Imanmu tak sebesar biji sesawi dan cintamu sebesar lukisan senja, maka pergilah dari hadapan bunda dan jadikanlah cintamu abadi."

Cerpen Erwin Pitang: Menunggu Hadirnya Maaf
ils
Cerpen Menunggu Hadirnya Maaf 

Aku terdiam. Tertunduk lesu. Mencari jawaban yang pasti agar bisa membongkar siasat pertanyaan bunda.
Sebenarnya aku tahu apa yang hendak bunda katakan padaku, hanya saja bunda masih menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
Sejujurnya kerinduan malam akan hadirnya bayu adalah analogi yang bunda sematkan tentang kerinduannya akan sosok yang bisa membuatnya bahagia.
Aku bisa menyebutnya dengan sosok pekerja di ladang Tuhan. Tetapi mulutku terasa kaku tuk berucap, menjinakkan dan membenarkan alasan kenapa aku harus memutuskan untuk meninggalkan kehidupan membiara.

Suaraku pun belum sanggup berkumandang. Kata-kata masih hangat berselimutkan ragu.
"Bunda, aku tahu apa yang lagi bunda rasakan."
"Kamu tahu tetapi rela membuat bunda tersiksa?"
Bunda memotong pembicaraanku dengan suara keras. Kerasnya kata-kata bunda adalah cara untuk membuka daya pikirku, tuk mengerti tentang harapan-harapan yang bunda gali dengan peluh dan doa yang tak kunjung usai.

Baca: Film Suzzanna Bernapas dalam Kubur Sudah Ditonton 721.872 Orang, Luna Maya Bilang Begini

"Sedalam palung lautan kerinduan bunda akan keberhasilanmu menjadi pekerja di ladang Tuhan, dan kamu tahu ketika kamu gagal menjadi bintang kejora, sesungguhnya kamu telah menciptakan sebuah musim baru dalam keteduhan mata bunda. Air mata menjadi suara satu-satunya cara bunda berbicara tentang luka. Kamu pernah bilang kalau bermimpi harus sampai ke bintang dan kalau tidak sampai ke bintang ke langit pun cukup. Tetapi apa yang kamu berikan untuk bunda? Kamu justru meredupkan bintangmu sendiri. Kamu telah menghancurkan tanah dimana bunda berdiri, dan kamu tahu saat ini, di mata bunda kamu tidak ada artinya sedikitpun," kata bunda sembari berpaling menjauhiku.

Kata-kata bunda ini menjadi melodi bernada pedang yang menembus masuk ke hati melewati daun telinga yang diam dan tenang. Isak tangis bunda membuat aku tak tega melihatnya. Aku tak ingin air mata bunda yang berharga mengalir tak beraturan menodai keindahan matanya. Aku harus berkata jujur.

"Bunda, sebelumnya aku minta maaf telah membuat bunda kecewa dan tak bisa lagi memungut setiap pecahan air mata bunda yang terlanjur jatuh berkeping-keping menggores luka di hati. Aku akan merasa menjadi orang yang paling mementingkan kebahagiaan sendiri, andaikan niatku masih memacuku untuk terus melangkah merebut satu tahkta di altar Tuhan. Apakah bunda percaya akan kekuatan janji ?"

Kataku sambil mendekati bunda yang berdiri membelakangiku di pojok gubuk tua itu.
"Janji itu kehidupan, Nak. Kamu hadir karena janji. Janji setia yang bunda dan ayah semayamkan pada bahtera cinta yang tak pernah tenggelam dalam samudera ketakutan. Namun jangan jadikan janji sebagai sebuah ketakutan karena dia tak pernah mengancam andaikan kita jujur padanya." Kata bunda sambil menatapku dengan mata waspada.

"Sebelum aku memilih tuk berladang di kebun Tuhan, aku telah bersumpah darah dengan gadis dara yang kukenal di ujung usiaku yang sedang mekar. Setiap malam pada dinding hati yang tenang ini ada tangisan bergetar, mengusik, melantunkan rindu akan kepulanganku. Aku merasakan deraian air matanya jatuh bertalu mendesakku tuk bisa memungut setiap pecahan air matanya itu dan pergi menyerahkannya pada sebuah pelukan. Bahkan ketika detak jantungnya berdegup kencang memanggil namaku, ada badai rindu yang dasyat merobohkan kemapanan jiwaku. Pada malam yang terlambat hadirkan bintang, doaku menggema ke peraduan Tuhan. Aku memohon agar Tuhan bisa membiarkan aku kembali, karena Tuhan tak ingin kehadiranku di depan matanya sekedar mengisi ruang yang kosong. Semua karena rasa cinta yang hadir pada saat itu membuat rasaku untuk tidak menyakitinya semakin membuih dan aku melakukan itu karena aku tak ingin kebahagiaanku adalah duka bagi dia. Sumpah darah yang kami lakukan adalah kesetiaan untuk memiliki. Aku yakin Tuhan pun tidak akan cemburu karena Dia mengijinkanku pergi membawa serta cinta dengan status kekal untuk kumeteraikan pada ambang hati yang sedang terbuka untukku."

Baca: Tiga Minggu Air Tidak Keluar! Hal Ini Dilakukan Warga Wae Lengga-Manggarai Timur

Sebait kata yang kulantunkan kepada bunda adalah usaha terbaikku untuk berkata jujur, bahwa cinta dan kekuatan janjilah yang telah membuatku gagal menjadi bintang sekaligus kejora bagi harapan yang bunda semai dalam ladang hati kecilnya.
Aku berharap kata-kataku bisa menjadi embun sejuk penyembuh luka hati bunda, agar bunda bisa menerima keyataan ini dengan ikhlas.

"Nak, imanmu terlalu kecil. Andaikan imanmu sebesar biji sesawi, kau bisa memindahkan gadis itu ke dalam doamu dan biarkanlah dia berbahagia dibalik lipatan jubahmu yang suci."

"Aku ada karena janji dan karena janji itu pula aku kembali hadir kedua kalinya untuk bunda. Aku kembali kepada bunda bukan karena aku melarat di ladang Tuhan, bukan pula tak ada anggur yang tak bisa kupetik dan kuteguk, rasanya juga bukan karena aksara doa bunda cacat sehingga tak sampai ke peraduan Sang Khalik, tetapi karena kekuatan janji itu bunda. Janji yang kata bunda adalah kehidupan itu. Aku ingin kehidupan itu tumbuh dan mekar di dalam cinta dan kesetiaan kami."

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved