Pemerintah Beli Kopi Manggarai dengan Harga Tinggi. Per Kilogram Ditetapkan Seperti Ini

Tujuannya agar petani kopi mendapatkan kesejahteraan dan kopi yang dibeli MMI adalah kopi yang berkelas sesuai

Pemerintah Beli Kopi Manggarai dengan Harga Tinggi. Per Kilogram Ditetapkan Seperti Ini
POS KUPANG/ARIS NINU
Suster Natalia memperlihatkan kopi kemasan yang diolah di Biara Gembala Baik Ruteng. 

POS-KUPANG.COM, RUTENG - Direktur Manggarai Multi Investasi (MMI) Kabupaten Manggarai, Yus Mahu mengatakan, perusahaan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai saat ini sudah membeli kopi petani dengan harga tinggi.

Tujuannya agar petani kopi mendapatkan kesejahteraan dan kopi yang dibeli MMI adalah kopi yang berkelas sesuai permintaan pembeli dan pasar.

"Kami sudah beli kopi petani dengan harga yang tinggi. Kopi arabika spesial kami beli dengan harga Rp 85 ribu per kilogram. Kopi arabika yang prosesnya belum bagus dibeli dengan harga Rp 50 ribu per kilogram. Kopi robusta harga Rp 31.000 sampai Rp 31.500 per kilogram," jelas Yus di Ruteng, Jumat (9/11/2018).

Baca: Dovizioso Rengkuh Juara MotoGP Valencia, Marques dan Rossi Terpeleset Jatuh

Baca: Ramalan Zodiak Malam Ini, Minggu 18 November 2018, Gemini Jadi Jembatan Komunikasi

Baca: Inilah Potret 7 Member BTS Saat Berambut Pink, Mana yang Paling Tampan?

Yus mengatakan, penyertaan modal dari Pemkab Manggarai untuk MMI akan dipakai membeli kopi petani dengan harga baik.

"Baru-baru ini kami kirim 30 ton kopi robusta ke Jakarta, Semarang dan Surabaya. Sekarang ini ada yang minta 200 ton lagi. Kami kirim kopi yang benar-benar berkualitas," tegas Yus.

Ia mengatakan, pengiriman kopi arabika dan robusta ke luar Manggarai akan dilakukan MMI. "Ke depan, kami akan mendorong petani mengolah kopi yang berkualitas. Kami sudah kerja sama dengan Asosiasi Petani Kopi Manggarai (Asnikom). Yang sudah menjadi mitra kami ada 23 kelompok tani," ujar Yus.

Mengenai kopi arabika Manggarai yang dipromosi Suster Gembala Baik Ruteng, Yus mengaku benar informasi tersebut. "Benar kopi arabika yang dipromosi Suster Gembala Baik dapat penghargaan. Tetapi lebih jelas hubungi suster yang ikut festival di Jakarta. Suster-Suster Gembala Baik Ruteng ada kebun kopi. Mereka olah sendiri dan ada kemasannya," papar Yus.

Kepala Desa Colol, Valentinus Tombor, meminta Pemkab Manggarai Timur (Matim) menetapkan harga kopi biji agar ekonomi petani membaik. Selama ini, kata Valentinus, petani masih menderita karena harga kopi dipermainkan para tengkulak.

Valentinus meminta Pemkab Matim perlu membuat peraturan daerah (Perda) yang mengatur harga kopi di Matim. Desa Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, lanjutnya, merupakan desa yang memiliki potensi kopi yang bisa mensejahterakan petani. Namun, sampai sekarang petani kopi belum sejahtera karena ulah tengkulak yang datang dan merusak harga kopi.

"Saya sudah bertekad membuat Peraturan Desa (Perdes) harga kopi. Tujuannya, harga kopi harus sama dan harus dijual kepada BUMDes Colol," tegas Valentinus, ditemui di Borong, Kamis lalu.

Valentinus mengatakan, di desanya sudah ada BUMDes, tapi tengkulak yang datang dan membeli kopi petani dengan harga murah.

"Maka itu perlu ada peraturan daerah mengatur harga kopi. Kalau tengkulak datang merusak harga harus ada larangan. Perlu ada harga yang sama, misalnya satu kilogram Rp 10 ribu. Kalau tengkulak beli dengan harga murah, pemerintah harus beli dengan harga di atas. Kalau tengkulak beli di atas harga yang ditetapkan, itu lebih bagus. Maka itu di kabupaten harus ada perusahaan daerah agar komoditi petani bernilai ekonomi," tegas Valentinus.

Ia mengatakan, ketika kopi dibeli dengan harga yang layak, pasti petani akan sejahtera. Sekarang ini, lanjutnya, kopi belum panen, tengkulak sudah datang beli atau panjar uang. Valentinus mengharapkan pemerintah daerah dan dewan harus pro rakyat dengan buat Perda harga kopi. "Jangan petani yang punya kopi, tapi orang lain yang kaya," katanya.

Valentinus meminta pemerintah harus berani berbuat untuk menyelamatkan petani kopi di Matim. "Kalau perlu semua komoditi dibeli BUMDes lalu dijual kepada perusahaan daerah yang ada di kabupaten," tambah Valentinus. (ris)

Penulis: Aris Ninu
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved