Opini Pos Kupang

Kepublikan Tokoh Publik

Namun demikian, problemnya adalah tidak semua tokoh publik dapat dijadikan sebagai panutan ataupun rujukan publik.

Kepublikan Tokoh Publik
ilustrasi

Oleh Inosentius Mansur
Pemerhati sosial-politik dari Seminari Ritapiret -Maumere

POS-KUPANG.COM - Harus diakui bahwa para tokoh publik (tokoh politik, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya) mampu mempengaruhi rakyat lewat gagasan dan praksis publik. Maka tidak heran, pernyataan atau tindakan tokoh publik tertentu selalu viral dan bahkan dijadikan sebagai basis diskursus publik.

Namun demikian, problemnya adalah tidak semua tokoh publik dapat dijadikan sebagai panutan ataupun rujukan publik. Dikatakan demikian, karena banyak tokoh publik mengabaikan aspek "kepublikan" dari eksistensi mereka.

Mereka seringkali melemparkan gagasan dan menampilkan aktus publik yang mendatangkan efek destruktif.

Baca: Ramalan Zodiak Malam ini, Pisces Lebih Baik Berbagi Daripada Menimbun, Leo Pegang Kendali?

Baca: Jadi Drama Korea Pertama yang Tayang di Youtube, Ini 4 Fakta Drakor Top Management

Baca: Satu Minggu Terjadi Dua Kasus Pencurian Laptop dan HP di Maumere

Bahkan mereka acapkali bertindak sebagai makelar yang memodifikasi provokasi menjadi gerakan kolektif-publik untuk kemudian menghasilkan ketakutan, keresahan dan antipati terhadap tokoh publik tertentu (Bdk. Cherian Gaorge, 2016).

Hal tersebut menyebabkan ketikdaknyamanan serentak menjadikan demokrasi elektoral tidak dilandasi oleh aspek rasional.

Diharapkan menjadi tokoh pemersatu, penjaga netralitas dan marwah ruang publik, mereka malah mengacak-acak keutuhan sosial. Mereka menjadi monster yang menyerang sendi-sendi kolektif.

Manuver-manuver publik mereka melululantahkan pilar-pilar sosial. Mereka menjadi aktor-aktor yang merawat embrio disintegrasi. Narasi yang mereka konstruksi tidak berlandaskan kecintaan pada kesatuan, tetapi berlandaskan pada kepentingan untuk mendapatkan kekuasaan.

Mereka menjadi tokoh publik partisan yang membobardir stabilitas kolektif sambil mengabaikan diskursus rasional. Publik pun terpolarisasi dalam dikotomi ekstrem tertentu.

Tokoh publik menjadi kreator anasir-anasir politik distortif dan mengadu-domba publik demi kepentingan politik. Mereka mengaduk-aduk emosi publik dengan mereproduksi dan mengeksploitasi isu-isu sensitif untuk dikonversi ke dalam gerakan politik kontraproduktif. Instrumentalisasi sentimen dilegitimasi oleh cara berpolitik pasca-kebenaran. Kontestasi politik dijadikan sebagai momentum menampilkan manipulasi ruang publik.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved