Berita Kota Kupang

Ternyata Kota Kupang Masih Minim Drainase

kalau hujan datang dengan kapasitas yang besar walaupun dia singkat, itu akan menyebabkan air akan mengenangi tempat-tempat yang rendah,

Ternyata Kota Kupang Masih Minim Drainase
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Banjir lokal yang merendam jalan WJ Lalamentik di Kelurahan Oebobo Kota Kupang akibat hujan deras pada Minggu (11/11/2018) siang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM,  Yeni Rachmawati

POS-KUPANG.COM KUPANG --             Kota Kupang baru saja diguyur hujan selama 30 menit, namun wajah kota tak elok dipandang mata. Sampah, pohon tumbang, genangan air terjadi dimana-mana.

Anggota Komisi III DPRD Kota Kupang, Nicky Uly, kepada POS-KUPANG.COM Minggu, (11/11/2018) mengatakan, hal itu merupakan berkembangnya suatu kota. Jadi daerah resapan air semakin lama, semakin berkurang karena bertumbuhnya bangunan-bangunan yang mempunyai konsekuensi air tidak bisa meresap masuk ke dalam.

Oleh sebab itu, kata Nicky,selain peresapan air yang semakin berkurang, juga sistem drainase jalan yang tidak bagus.

“Di Kota Kupang ini yang sudah mulai membenahi drainase jalan itu ada pada jalan-jalan Provinsi dan Negara. Sedangkan jalan di kota yang milik kota, hampir semuat tidak ada drainase. Paling 20% yang ada.

Oleh karena itu kalau hujan datang dengan kapasitas yang besar walaupun dia singkat, itu akan menyebabkan air akan mengenangi tempat-tempat yang rendah, termasuk ditengah-tengah pemukiman yang sudah padat yang tidak mempunyai drainase atau peresapan air,” terangnya.

Dijelaskan lebih lanjut, dulu tata kota mensaratkan pembangunan rumah baru harus ada peresapan air. Jadi tata kota menyiapkan gambar masyarakat yang membangun tinggal mengikuti gambar bagaimana membuat struktur peresapan. Tapi dirinya tidak mengetahui apakah persyaratan itu dipertahankan atau tidak.

“Inilah yang terjadi di kota Kupang, bukan saja terjadi di Kupang, tapi dimana

bila hujan datang maka terjadi penggenangan. Nah, ini yang kita sarankan dinas PUPR Kota mulai dari sekarang melihat pembuatan drainase-drainase di jalan jalan lingkungan maupun jalan penghubung kewenangan pemerintah kota,” tuturnya,

Ketika disinggung mengenai banjir yang terjadi di jalan RW Monginsidi III/32 karena peninggian badan jalan, jawab Nicky, jalan itu setiap satu atau dua tahun sekali ada peningkatan jalan yang membuat jalan semakin tinggi. Sehingga  depan rumah warga yang berada di bawah dan air pun mengalir ke pemukiman yang rendah. Karena tidak ada drainase atau tempat saluran untuk membawa air ketempat pembuangan akhir.

“Kita akan minta  pada PU untuk anggaran murni ini, PU mulai memperhatikan dan melihat tidak hanya pada badan jalan, tapi mulai beralih pada drainase di jalan-jalan lingkungan dan jalan penghubung yang menjadi kewenangan kota. Namun, masyarakat cuma menyiapkan jalan segitu saja mau bangun drainase, kita harus minta masyarakat mau tidak memberikan tanah untuk dibuat drainase. Itu paling banyak di jalan lingkungan yang sudah pas-pasan”, ujarnya.

Ia mengatakan untuk membuat drainase harus ada pembebasan tanah. Sedangkan masyarakat sulit untuk membebaskan tanahnya untuk membuat drainase. Ini merupakan tantangan. Sebaiknya, jika membangun drainase harus yang terbuka supaya mudah dibersihkan dan mudah mengontrolnya serta tidak terjadi penyumbatan oleh kotoran-kotoran pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya.

“Sampah buang di kali, sampah buang di drainase-drainase yang sudah ada. Itu juga menjadi masalah besar dan itu kembali kepada kita sebagai pengguna. Kita harus disiplin agar membuang sampah tidak sembarangan agar tidak mempersumbat drainase,” katanya. (*)  

 

 
 

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved