Opini Pos Kupang

Mengadabkan Kota dengan Seni

Ramalan Klaus Shwab ternyata menjadi kenyataan pada saat sekarang. Dan istilah global ternyata lebih netral daripada

Mengadabkan Kota dengan Seni
ilustrasi 

Oleh Hengky Ola Sura
Warga Desa Magepanda-Sikka

POS-KUPANG.COM - Klaus Schwab, ahli ekonomi Swiss pada dekade 1990 pernah mengemukakan bahwa globalisasi baru akan bisa dipahami bila dilihat melalui kesenian dan kebudayaan. Pada waktu itu pendapatnya ini terdengar aneh karena pembahasan tentang globalisasi selalu dihubungkan dengan perkembangan ekonomi dan industri.

Ramalan Klaus Shwab ternyata menjadi kenyataan pada saat sekarang. Dan istilah global ternyata lebih netral daripada pengungkapan macam kata internasional yang mungkin saja sudah merujuk pada keseragaman dalam kehidupan modern. Keseragaman ini pada akhirnya hanya sampai pada pemikiran dan belum sepenuhnya mencapai kenyataan.

Baca: LIVE STREAMING : Pelantikan Bupati Sumba Tengah, Paul Limu Fokus Pada Ketersediaan Air Bersih

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini, 12 November 2018, Pisces Hati-Hati, Aries Kencangkan Ikat Pinggang

Baca: Penampilan Jungkook BTS Jadi Sorotan Saat Berangkat ke Jepang Untuk Lanjutkan Tur, Kenapa ya?

Proses globalisasi tidak menghilangkan kekuatan-kekuatan pada aspek kehidupan yang berkenan dengan seni dan kebudayaan lokal. Seni dan kebudayaan pada akhirnya punya peran besar dalam membentuk persepsi tentang berbagai kenyataan. Dari kesadaran ini muncul slogan think globally, act locally. Tujuannya jelas bahwa harus ada keselarasan pada proses globalisasi.

Tentang seni, kebudayaan dan proses globalisasi di Maumere selama tiga hari berturut, sejak 2-4 November 2018, Komunitas KAHE, sebuah komunitas seni di Kota Maumere menggelar festival seni bertajuk Maumerelogia 3.

Maumerelogia 3 kali ini fokus pada diskusi dan pameran lukisan dan peluncuran buku. Mengusung tema Tsunami-tsunami, kegiatan ini merupakan sebuah kontribusi bergengsi tentang segala aspek berlabel pembangunan tidak hanya di Kota Maumere tetapi juga Kabupaten Sikka dan bahkan untuk publik di NTT.

Mengapa Tsunami?

Tsunami-tsunami menjadi semacam alarm yang dimotori oleh sebuah komunitas seni untuk mengajak publik terlebih warga Kota Maumere-Kabupaten Sikka untuk memandang masa lampau. Mengenang peristiwa gempa tsunami 1992 yang memporak-porandakan Maumere.

Bahwa peristiwa 1992 adalah satu peristiwa dahsyat yang telah begitu banyak memakan korban jiwa dan membawa kerugian material. Publik musti tahu bahwa bencana bisa terjadi kapan saja, dan bahwa bencana terjadi lagi karena bencana sebelumnya dilupakan.

Artinya bahwa publik seharusnya belajar dari pengalaman bencana terdahulu agar bisa meminimalisir bencana terdahulu. Sebenarnya tak ada bencana yang ada hanyalah peristiwa alam (pinjam bahasanya Dr. Jonathan Lassa, pakar manajemen bencana dari Charles Darwin University).

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved