Berita Puisi

Ini Loh, Puisi-Puisi Edisi Minggu Ini, Kepoin Yuk

Di depan bunga-bunga kata yang sayup mengering,Lidahku mencecap gelisah. "Aku takut rezekiku hilang dan hariku lenyap"

Ini Loh, Puisi-Puisi Edisi Minggu Ini, Kepoin Yuk
ILS
Ilustrasi Hujan 

Puisi-Puisi Defri Ngo
Kepada Hujan

Di depan bunga-bunga kata yang sayup mengering
Lidahku mencecap gelisah
"Aku takut rezekiku hilang dan hariku lenyap"
Sedikit lagi kata tak berarti selagi hujan tiada tumpah

Maka, cepat-cepat kususun sebuah doa dan kurapalkan dengan merdu
"Bapa di Surga
Tumpakanlah hujanmu pada tandus kata-kataku
Biarlah kata-kata ini menjadi ranum
Dan kucicipnya semanis susu yang keluar dari buah dada Maria"

Setelah doa yang merdu itu
Hujan mulai turun
Seperti rintik rinduku
Dan kemudian seperti manis senyum pertamamu
(Nenuk, 2017)

Hangat

Kau baru menyadari bahwa hujan hanyut dalam tubuhmu...
Bulir-bulirnya lekas membatu dan menghujam segala pada tubuh
Kepalamu kesakitan dan badanmu gigil
Hujan adalah sakit yang di tanam pada tubuh...

Kau baru menyadari bahwa hujan yang mendesah kasar
di tubuhmu adalah sebab dari siasat diri yang sirat...
Kemudian kau merindukan hangat sambil merapalkan doa kepada langit yang kedinginan:
"Langit, berikanlah hangat untuk tubuhku yang gigil dan sakit ini..."
Langit tetap hening dan kerinduanmu seperti menguning...

Apakah langit itu sungguh bisu hingga tak terdengar lagi olehnya desahmu?
Hanya genangan air yang berbicara pada jalan-jalan
Hanya dingin yang mengeja pada tubuh
Sedang kau tetap sendiri merindukan hangat

Aku butuh lindung-aku rindu hangat

Menunggu

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved