Berita Cerpen

Cerpen Simply Dalung : Orang-Orang Gila

SEPERTI kampung kebanyakan, kehidupan di sebuah kampung berjalan sangat biasa. Tidak ada yang begitu istimewa.

Cerpen Simply Dalung : Orang-Orang Gila
Ilustrasi
Orang-Orang Gila 

SEPERTI kampung kebanyakan, kehidupan di sebuah kampung berjalan sangat biasa. Tidak ada yang begitu istimewa. Pagi-pagi ayam berkokok seperti biasa. Para warga bangun dan beraktivitas seperti biasa. Ada yang ke ladang, ke sawah dan ke gunung. Semuanya berjalan seperti biasa, seperti di kampung-kampung lainnya dan seperti di hari-hari sebelumnya.

Namun semua kehidupan yang biasa itu seperti menemukan akhir zamannya. Kesedihan yang paling sedih tumpah ruah di semua wilayah kampung. Sebuah berita duka datang dari kepala kampung, seorang yang paling mereka cintai dan sayangi sudah dijemput malaikat maut dan pergi ke kehidupan yang lain. Semua warga kampung bersedih dan bersimbah air mata, bahkan rumput-rumput pun layu dan pohon-pohon menggugurkan daunnya. Sekarang tidak ada yang lebih membuat mereka sedih selain kematian kepala kampung.

Kesedihan itu tetap berlanjut sampai ketika tubuh kaku kepala kampung dimakamkan dan diam selama berhari-hari di dalam makam. Para warga tenggelam dalam mengheningkan cipta yang begitu dalam. Mereka seperti kehilangan bagian terpenting dari hidup mereka, seorang pemimpin yang paling bijak dan arif. Mereka seperti kelihatan ragu-ragu sekaligus cemas, apakah akan ada yang bisa memimpin kampung mereka seperti kepala kampung mereka yang lama.

Baca: Gubernur NTT Lantik Bupati dan Wabup Sumba Tengah

Sebuah bencana datang dan terjadilah demikian. Di suatu pagi, warga kampung tetap bangun tidur seperti cara mereka biasanya bangun tidur, tetapi yang bangun hanya anak-anak kecil, bapak-bapak dan juga ibu-ibu, sedangkan anak-anak muda masih saja tertidur mungkin ada beberapa mimpi yang belum selesai.

"Kenapa anak-anak belum bangun?" tanya seorang bapak pada istrinya.
"Ahh, biarkan saja mereka tidur. Kampung kita sudah terlalu menderita kerana meninggalnya kepala kampung. Janganlah kau tambah penderitaan mereka dengan mengganggu tidur mereka."

"Tapi ini tidak biasanya. Lagi pula matahari sudah semakin meninggi. Jangan ajarkan anak-anakmu hidup begitu. Tidak baik."

"Pak, apakah kau juga mau melihat aku menderita karena melihat anak-anakku yang menderita karena tidur mereka diganggu. Cobalah pak, jangan menambah-nambah lagi penderitaan."
"Sudahlah."

Maka anak-anak muda itu tetap tidur dan terlelap. Bukan hanya anak-anak muda dari bapak ibu yang berdebat itu saja yang tetap tertidur, tetapi anak-anak muda di semua rumah, di satu kampung.

Anak-anak muda itu tetap tidur hingga sore. Para bapak yang mulai naik darah karena anak-anaknya bermalas-malasan begitu hendak membangunkan mereka dan memberi mereka sedikit pelajaran. Sudah orang kampung, bermalas-malasan pula, anak-anak macam apa yang begini.

"Hey, bangun!" Seorang bapak membentak kasar anaknya.
"Hey, bangun! Anak macam apa kau ini. Sudah sore masih saja tidur. Bangun! Kau belum makan pagi, kau belum makan siang, kau belum ke gunung mencari kayu, kau belum memberi makan kambingmu. Apa kau tidak lapar? Apa kau tidak mau bekerja?
Yang dibentak hanya diam dan tetap tidur. Bapaknya hampir saja menggunakan cara kasar sebelum menyadari tubuh anaknya yang panas dan menggigil.

Halaman
1234
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved