Berita Kabupaten Malaka

Tua Adat Suku Naisau Laksanakan Ritual Tatam Pean Manusit! Ini Tujuannya

Tatam Pean Manusit merupakan ritual adat dalam rangka memasukan upeti berupa hasil panen (jagung, kacang-kacangan dan ubian-ubian) kepada penguasa

Tua Adat Suku Naisau Laksanakan Ritual Tatam Pean Manusit! Ini Tujuannya
POS KUOANG.COM/TENI JENAHAS
POS KUPANG.COM/TENI JENAHAS RITUAL---Para Tetua Adat Suku Naisau saat melaksanakan Ritual Tatam Pean Manusit di wilayah adat As Manulea, Rabu (7/11/2018). 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Teni Jenahas

POS KUPANG.COM| BETUN----Para tetua adat Suku Naisau, Desa Naisau, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka melaksanakan ritual adat Tatam Pean Manusit
di wilayah adat As Manulea.

Tatam Pean Manusit merupakan ritual adat dalam rangka memasukan upeti berupa hasil panen (jagung, kacang-kacangan dan ubian-ubian) kepada penguasa adat/raja di As Manulea.

Baca: Pesawat Wings Air Batal Mendarat di Bandara Turelelo-Bajawa! Begini Penjelasannya

Pewaris Suku Naisau, Syprianus Manek Asa kepada Pos Kupang.Com, Jumat (9/11/2018) mengatakan,
ritual Tatam Pean Manusit dilaksanakan, Rabu (7/11/2017) yang dimulai dari kampung Buimetom, Naisau menuju perkampungan adat As Manulea.

Para tetua adat dari Naisau menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sepanjang dua kilometer. Masing- masing orang memikul hasil panenannya sambil menyayikan lagu-lagu yang bernuansa adat sebagai ucapan syukur kepada sang penguasa alam. Acara dikoordinir oleh Nai Anket (koordinator adat).

Mereka sangat kompak, hal ini dapat terlihat dari cara mereka berjalan yaitu masuk dalam sebuah barisan panjang secara tertib. Terlihat di sepanjang perjalanan tidak seorangpun yang keluar dari barisan tersebut. Paling depan Nai Anket sebagai pimpinan rombongan tersebut, memegang sebuah ranting kayu dan daun untuk memberi isyarat kepada siapa saja yang melintas baik para pejalanan kaki maupun kendaraan agar berhenti dan mengambil tempat di dipinggir jalan.

Hal ini dilakukan karena menurut kepercayaan yang dianut apabila para pejalan kaki menerobos rombongan terbut maka akan berakibat buruk terhadap orang yang menerobos tersebut. Bila terjadi tanpa disengaja maka orang yang menerobos tersebut harus bertemu dengan pemangku adat setempat untuk dapat dipulihkan kembali dengan cara disembur ala adat setempat.

Setibanya di pintu gerbang kampung adat As Manulea, para tetua adat dari Naisau beristirahat sejenak. Dalam waktu istirahat, masing-masing tua adat meletakkan hasil penannya secara rapi pada tempat yang telah disediakan, sambil tetap melantunkan syair-syair adat.

Selanjutnya para tetua adat mulai memasuki perkampungan adat lengkap dengan pakaian adat setempat, secara tertib berjalan satu-satu dalam sebuah barisan menuju tempat yang telah disediakan jauh sebelumnya.

Di tempat itu Nai A.A at (juru bicara adat) bersama para orang tua dan raja telah menunggu juga dalam situasi adat. Setelah para tetua adat dari Naisau meletakkan hasil panenannya, mereka dipersilahkan untuk mengambil tempat pada tempat yang telah disediakan. Lalu Nai A A at menyapa mereka dalam tutur adat, selanjutnya dipersilahkan untuk duduk bersama para pemangku adat dan raja yang telah menunggu sebelumnya.

Halaman
12
Penulis: Teni Jenahas
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved